Upacara Busiano Liwu. (Facebook/ Daily Yunan) (Mufida)
SULTRA - Tradisi adat Upacara Busiano Liwu telah menjelma menjadi salah satu warisan budaya penting di wilayah Kaisabu Baru, Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Perayaan yang mengandung makna syukur dan pemulihan keseimbangan alam ini mengundang perhatian saat kembali digelar, tanpa banyak sorotan media sebelumnya.
Menurut keterangan dari masyarakat setempat, Busiano Liwu muncul sebagai ekspresi rasa terima kasih atas hasil bumi dan lautan, sekaligus sebagai upaya memohon perlindungan terhadap bencana alam dan gangguan makhluk tak terlihat. Ritual ini kerap dikaitkan dengan adat masyarakat Buton yang percaya akan adanya “kampung leluhur” yang harus dijaga kesehatannya agar keselamatan masyarakat terjamin.
Baca juga: Makna Motif Laut, Adat, dan Identitas yang Terlukis di Kain Batik Sulawesi Tenggara
Terdapat lima tahap ritual yang menjadi kerangka kegiatan adat Busiano Liwu. Informasi ini dikutip dari hasil penelitian mengenai ritual sejenis di Pulau Buton (ritual “Kakadiu Bukuno Kamokulano Liwu”) yang menunjukkan lima tahapan yakni persiapan, iring-iringan ke lokasi, ritual utama, mandi/tahap pemurnian, dan makan bersama/tutup.
Meskipun tidak persis sama nama-namanya, Busiano Liwu menggunakan struktur serupa:
Baca juga: Bola Pinoama: Film Pendek dari Baubau yang Hangatkan Hati Lewat Bahasa Daerah
Upacara Busiano Liwu menjadi sarana memperkuat ikatan sosial, menjaga harmoni antara manusia dan ekosistem lokal, serta menjaga ingatan kolektif terhadap sejarah komunitas Buton. Dalam era modernisasi dan migrasi muda ke kota-kota besar, pelestarian ritual semacam ini menjadi jembatan antara generasi lama dan generasi baru.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wawancara