Ilustrasi buah pala (Magnific/atlascompany) (Mufida)
SULTRA - Kakao masih menjadi komoditas perkebunan unggulan terbesar di Kolaka, disusul kelapa sawit, kelapa, lada, hingga pala yang mulai dikembangkan di sejumlah wilayah. Berbagai program pemerintah, mulai dari rehabilitasi tanaman kakao, distribusi bibit unggul, hingga penguatan kelompok tani terus dilakukan agar sektor perkebunan tetap menjadi sumber penghasilan ribuan keluarga petani.
Nama Kolaka memang identik dengan kawasan industri dan pelabuhan ekspor mineral. Namun ketika memasuki wilayah pedesaan seperti Samaturu, Wolo, Tanggetada, hingga Watubangga, hamparan kebun menjadi pemandangan yang tak kalah dominan. Aktivitas panen, pengeringan biji kakao, hingga perdagangan hasil perkebunan masih menjadi rutinitas masyarakat yang menggerakkan ekonomi desa setiap tahunnya.
Baca juga: Jambu Mete Bukan Satu-satunya, Ini Hasil Perkebunan Muna yang Layak Dikenal
Data Dinas Perkebunan dan Hortikultura Sulawesi Tenggara menunjukkan luas areal kakao di Kabupaten Kolaka mencapai 25.106 hektare dengan produksi sekitar 8.450 ton pada 2024. Komoditas tersebut dikelola oleh sekitar 19.529 kepala keluarga petani, menjadikan Kolaka sebagai salah satu sentra kakao terbesar di provinsi ini.
Baca juga: Kelapa, Kakao hingga Cengkih, Mengenal Komoditas Perkebunan Unggulan Konawe Raya
Tidak banyak komoditas yang mampu bertahan sebagai penopang ekonomi masyarakat selama puluhan tahun seperti kakao. Tanaman ini masih mendominasi areal perkebunan rakyat di Kolaka dan menjadi sumber pendapatan utama ribuan keluarga.
Sentra produksi tersebar di Kecamatan Samaturu, Wolo, Tanggetada, Baula, Latambaga hingga Iwoimendaa. Hampir setiap musim panen, biji kakao dari wilayah tersebut dipasarkan ke berbagai daerah di Sulawesi bahkan menjadi bagian dari rantai pasok industri pengolahan cokelat nasional. Besarnya potensi itu membuat pemerintah terus memprioritaskan pengembangan kakao. Berdasarkan data statistik perkebunan Sulawesi Tenggara, Kolaka memiliki lebih dari 16 ribu hektare tanaman kakao produktif dengan produktivitas sekitar 510 kilogram per hektare.
Perkebunan sawit berkembang di kawasan Watubangga, Polinggona, dan sebagian wilayah Tanggetada. Kehadiran komoditas ini bukan hanya meningkatkan produksi sektor perkebunan, tetapi juga menciptakan lapangan kerja mulai dari pembibitan, pemeliharaan kebun, hingga distribusi tandan buah segar.
Perkembangan sawit juga mendorong tumbuhnya aktivitas ekonomi di sekitar kawasan perkebunan, mulai dari jasa transportasi, perdagangan pupuk, hingga usaha kecil yang melayani kebutuhan pekerja.
Harga lada yang cenderung stabil dalam beberapa tahun terakhir membuat sebagian petani Kolaka mulai melirik komoditas ini sebagai sumber pendapatan tambahan. Tanaman lada umumnya dibudidayakan menggunakan sistem tumpang sari bersama kakao maupun tanaman tahunan lainnya. Cara tersebut dinilai lebih efisien karena lahan dapat dimanfaatkan secara maksimal tanpa harus membuka kebun baru.
Selain memberikan tambahan penghasilan, diversifikasi tanaman juga membantu petani mengurangi risiko ketika salah satu komoditas mengalami penurunan harga.
Meskipun perkembangan sawit cukup pesat, tanaman kelapa belum kehilangan perannya. Kawasan pesisir Kolaka masih dipenuhi kebun kelapa yang telah dikelola masyarakat secara turun-temurun. Hasil panennya dijual sebagai kelapa segar maupun diolah menjadi kopra yang dipasarkan ke berbagai daerah.
Permintaan kopra yang relatif stabil membuat banyak petani tetap mempertahankan tanaman kelapa sebagai investasi jangka panjang. Selain menghasilkan buah, hampir seluruh bagian pohon kelapa juga memiliki nilai ekonomi sehingga tetap menjadi komoditas yang menguntungkan.
Berbeda dengan beberapa tahun sebelumnya, pala mulai menjadi salah satu komoditas yang dikembangkan pemerintah di Kabupaten Kolaka. Pada 2024, Dinas Perkebunan dan Hortikultura Sulawesi Tenggara menyalurkan 7.600 bibit pala kepada kelompok tani di Kabupaten Kolaka sebagai bagian dari program pengembangan komoditas perkebunan bernilai tinggi. Bantuan tersebut disertai pendampingan teknis agar tanaman pala dapat berkembang optimal dan menjadi sumber pendapatan baru bagi petani.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Dinas Perkebunan Dan Hortikultura Prov. Sulawesi Tenggara