Ilustrasi uang. (Freepik/jcomp) (Mufida)
SULTRA - Nilai tukar rupiah kembali menjadi perhatian publik seiring penguatan dolar Amerika Serikat dalam beberapa waktu terakhir. Bagi masyarakat yang ingin mengetahui dimana melihat data rupiah yang melemah, informasi resmi dapat diakses melalui situs Bank Indonesia, Google Finance, Bloomberg, Yahoo Finance, hingga aplikasi perbankan digital yang menampilkan kurs mata uang secara real time. Kenaikan dolar tidak hanya memengaruhi sektor ekspor-impor, tetapi juga berdampak langsung pada harga barang, biaya perjalanan luar negeri, hingga investasi masyarakat.
Penguatan dolar AS terhadap berbagai mata uang dunia, termasuk rupiah, terjadi akibat kombinasi faktor global dan domestik. Mulai dari kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed), ketidakpastian geopolitik, hingga meningkatnya permintaan dolar di pasar internasional.
Baca juga: Ekonomi Sultra Melejit 6,23 Persen, Tertinggi dalam 9 Triwulan Terakhir
Nilai tukar dolar AS terhadap rupiah terus bergerak mengikuti kondisi pasar global dan kebijakan ekonomi internasional. Per Mei 2026, kurs dolar AS berada di kisaran Rp16.000 hingga Rp17.400 per USD di pasar spot dan perbankan nasional, tergantung waktu transaksi serta kebijakan masing-masing bank.
Bagi masyarakat yang ingin memantau pergerakan rupiah terhadap dolar AS secara akurat, berikut beberapa platform yang paling sering digunakan:
Bank Indonesia menyediakan data kurs referensi rupiah setiap hari kerja melalui laman resmi BI. Informasi yang tersedia meliputi:
Data dari BI biasanya menjadi acuan utama bagi pelaku bisnis, investor, hingga perbankan nasional.
Platform ini bisa diakses tanpa harus unduh aplikasi. Google Finance dan Yahoo Finance menampilkan pergerakan kurs secara real time dengan grafik harian, mingguan, hingga tahunan. Pengguna cukup mengetik:
Beberapa aplikasi bank digital kini menyediakan fitur pemantauan kurs mata uang asing. Nilai kurs biasanya diperbarui secara berkala dan bisa langsung digunakan untuk transaksi valas.
Platform ini lebih sering digunakan oleh investor dan pelaku pasar karena menyediakan analisis ekonomi global, pergerakan indeks, serta sentimen pasar internasional yang memengaruhi rupiah.
Baca juga: Kota Kendari Raih Penghargaan Nasional, PBG Nol Rupiah untuk Warga MBR Diapresiasi Menteri PKP
Kenaikan dolar AS tidak terjadi begitu saja. Ada sejumlah faktor utama yang membuat mata uang tersebut menguat terhadap rupiah.
Ketika The Fed mempertahankan suku bunga tinggi, investor global cenderung memindahkan dana mereka ke aset berbasis dolar AS karena dianggap lebih aman dan menguntungkan. Akibatnya, permintaan dolar meningkat dan mata uang negara berkembang seperti rupiah mengalami tekanan.
Konflik geopolitik, perang dagang, hingga perlambatan ekonomi dunia membuat dolar menjadi aset “safe haven”. Investor biasanya memburu dolar saat situasi global tidak stabil.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Bank Indonesia