Pertumbuhan ekonomi Sultra triwulan I 2026 mencapai 6,23 persen. (Freepik/creativeart) (Mufida)
SULTRA - Pertumbuhan ekonomi Sultra pada Triwulan I 2026 mencatat angka 6,23 persen secara year on year (YoY), menjadikannya capaian tertinggi dalam sembilan triwulan terakhir. Data yang dirilis Bank Indonesia berdasarkan statistik BPS Provinsi Sulawesi Tenggara menunjukkan penguatan ekonomi daerah didorong sektor konstruksi, industri pengolahan, hingga konsumsi rumah tangga yang terus meningkat.
Nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sultra atas dasar harga berlaku tercatat mencapai Rp52,55 triliun, sedangkan PDRB atas dasar harga konstan berada di angka Rp30,28 triliun. Kinerja tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas ekonomi di Sulawesi Tenggara masih tumbuh positif di tengah dinamika ekonomi nasional dan global. Manusia memang suka mengukur kesehatan daerah lewat angka persen yang dipajang warna-warni, tetapi di balik grafik itu ada proyek, konsumsi warga, dan perputaran uang yang benar-benar bergerak.
Bank Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi Sultra terus mengalami penguatan sejak Triwulan IV 2024. Saat itu, pertumbuhan berada di angka 5,08 persen, kemudian naik menjadi 5,66 persen pada Triwulan I 2025.
Pergerakan tersebut terus berlanjut hingga mencapai 5,94 persen pada Triwulan IV 2025 dan akhirnya menembus 6,23 persen pada Triwulan I 2026. Angka ini menjadi level tertinggi dalam sembilan triwulan terakhir.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas ekonomi di Sulawesi Tenggara mengalami percepatan yang cukup konsisten, terutama pada sektor-sektor produktif yang berkaitan dengan pembangunan dan industri.
Lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi berasal dari sektor konstruksi yang tumbuh hingga 15,27 persen. Tingginya pertumbuhan ini berkaitan dengan pembangunan infrastruktur, proyek kawasan industri, hingga peningkatan aktivitas properti di sejumlah wilayah Sultra.
Selain konstruksi, industri pengolahan juga tumbuh signifikan sebesar 10,14 persen. Sektor perdagangan dan reparasi ikut menyumbang pertumbuhan sebesar 9,64 persen.
Sementara itu, sektor pertanian tumbuh 3,81 persen. Berbeda dengan sektor lainnya, pertambangan justru mengalami kontraksi sebesar minus 0,65 persen. Fenomena ini menarik karena Sultra selama ini identik dengan tambang nikel. Namun, data terbaru menunjukkan ekonomi daerah mulai mendapatkan dorongan dari sektor nonpertambangan.
Baca juga: Program Koperasi Merah Putih Di Sultra Untuk Kemandirian Ekonomi Komunitas
Berdasarkan komponen pengeluaran, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi menjadi kontributor terbesar dengan pertumbuhan mencapai 16,95 persen.
Impor juga meningkat sebesar 13,79 persen, diikuti konsumsi pemerintah sebesar 10,49 persen. Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,89 persen, sedangkan ekspor berada di angka 4,71 persen.
Kenaikan konsumsi rumah tangga menunjukkan daya beli masyarakat Sultra masih relatif terjaga. Aktivitas ekonomi yang meningkat turut berdampak pada perdagangan, jasa, hingga sektor usaha mikro di berbagai daerah.
Penguatan ekonomi Sultra dinilai tidak lepas dari perkembangan kawasan industri pengolahan nikel serta pembangunan infrastruktur yang terus berjalan di sejumlah wilayah seperti Konawe, Kolaka, hingga Kota Kendari.
Aktivitas logistik, jasa transportasi, perdagangan bahan bangunan, dan kebutuhan tenaga kerja ikut meningkat seiring bertambahnya proyek strategis di Sulawesi Tenggara.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Bank Indonesia