Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Sabtu, 16 MEI 2026 • 22:20 WIB

Rupiah Terus Melemah, Ini Dampak Nyata yang Sering Tak Disadari

Rupiah Terus Melemah, Ini Dampak Nyata yang Sering Tak DisadariIlustrasi mata uang Dolar. (Freepik/jcomp) (Mufida)

SULTRA - Nilai tukar rupiah menjadi perhatian publik setelah Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa masyarakat tidak perlu terlalu khawatir terhadap penguatan dolar AS karena warga di desa, tidak menggunakan dolar dalam kehidupan sehari-hari. Pernyataan itu memicu diskusi panjang mengenai sejauh mana pelemahan rupiah benar-benar berdampak pada masyarakat umum.

Secara kasat mata, mayoritas masyarakat Indonesia memang bertransaksi menggunakan rupiah. Pedagang di pasar tradisional tidak menerima pembayaran dolar, nelayan tetap membeli solar dengan rupiah, dan warung di desa juga tidak memasang harga dalam mata uang asing. Namun dalam sistem ekonomi modern, pelemahan kurs tidak selalu terasa secara langsung. Dampaknya justru sering muncul perlahan melalui kenaikan harga barang, biaya produksi, hingga penurunan daya beli masyarakat beberapa bulan setelah nilai tukar bergerak tajam. 

Baca juga: Cek di Sini! Tempat Melihat Data Kurs Dolar yang Terus Melejit Hari Ini

Apa Arti Rupiah Melemah dan Mengapa Ini Terjadi?

Rupiah melemah berarti nilai mata uang Indonesia turun terhadap mata uang asing, terutama dolar AS. Misalnya:

Januari: 1 dolar AS = Rp15.300
Mei: 1 dolar AS = Rp17.400

Artinya, masyarakat membutuhkan lebih banyak rupiah untuk membeli jumlah dolar yang sama.

Kondisi ini biasanya terjadi karena kombinasi faktor global dan domestik, seperti:

  • Kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed)
  • Ketidakpastian geopolitik dunia
  • Arus modal asing keluar dari Indonesia
  • Tingginya impor dibanding ekspor
  • Kekhawatiran investor terhadap ekonomi global

Ketika suku bunga AS naik, banyak investor dunia memilih menyimpan uang dalam dolar karena dianggap lebih aman dan menguntungkan. Akibatnya, permintaan dolar meningkat dan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, ikut tertekan.

Menurut data Bank Indonesia dan pasar spot Asia dalam beberapa bulan terakhir, rupiah sempat bergerak di kisaran Rp16.000 hingga Rp17.400 per dolar AS, mendekati level terlemah sejak krisis pandemi. Pemerhati ekonomi menyoroti fenomena ini karena dikaitkan dengan krisis 1998.

Baca juga: Ekonomi Sultra Melejit 6,23 Persen, Tertinggi dalam 9 Triwulan Terakhir

Benarkah Warga yang Tidak Memakai Dolar Tidak Akan Terdampak?

Pernyataan bahwa masyarakat desa tidak menggunakan dolar memang benar secara teknis, tetapi ekonomi modern bekerja melalui rantai distribusi yang saling terhubung.

Indonesia masih bergantung pada banyak barang impor, baik secara langsung maupun bahan bakunya. Ketika dolar naik, biaya impor ikut meningkat dan pada akhirnya memengaruhi harga barang di tingkat konsumen.

1. Harga Pangan Bisa Ikut Terdorong

Indonesia masih mengimpor bahan pangan seperti gandum, kedelai, gula, daging tertentu, dan pakan ternak. Ketika dolar menguat, biaya impor bahan pangan ikut naik. Dampaknya mungkin tidak langsung terasa hari itu juga, tetapi beberapa bulan kemudian harga mi instan, roti, tahu dan tempe, serta roduk olahan makanan bisa mengalami penyesuaian harga.

Sebagai contoh, industri tahu-tempe di Indonesia pernah mengalami tekanan besar saat harga kedelai impor naik akibat penguatan dolar. Padahal masyarakat membeli tempe menggunakan rupiah, bukan dolar. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Bank Indonesia

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Rupiah Terus Melemah, Ini Dampak Nyata yang Sering Tak Disadari

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!