Dolar terus melejit. (Freepik/jcomp) (Mufida)
SULTRA - Fenomena penguatan dolar Amerika Serikat membuat banyak negara mengalami tekanan nilai tukar dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan, daftar negara dengan nilai mata uang terlemah kini tidak hanya diisi negara konflik atau ekonomi kecil, tetapi juga beberapa negara berkembang di Asia. Berdasarkan data Open Exchange per November 2025, terdapat sejumlah mata uang yang membutuhkan puluhan ribu unit hanya untuk mendapatkan 1 dolar AS.
Kondisi ini menjadi perhatian karena pelemahan mata uang dapat memengaruhi harga impor, daya beli masyarakat, hingga stabilitas ekonomi nasional. Dari lima negara dengan kurs terendah terhadap dolar AS, Indonesia juga masuk dalam daftar tersebut bersama Lebanon, Iran, Vietnam, dan Laos.
Baca juga: Rupiah Terus Melemah, Ini Dampak Nyata yang Sering Tak Disadari
Dolar AS merupakan mata uang paling banyak diperdagangkan di dunia dan menjadi acuan utama transaksi internasional. Beberapa faktor yang membuat dolar terus menguat antara lain:
Ketika investor global memilih menyimpan aset dalam dolar, mata uang negara berkembang biasanya ikut melemah.
Baca juga: Cek di Sini! Tempat Melihat Data Kurs Dolar yang Terus Melejit Hari Ini
Pound Lebanon menjadi mata uang terlemah di dunia saat ini.
Nilai tukarnya 1 USD = 89.556,36 Pound Lebanon.
1 LBP = 0,000011 USD.
2. Rial Iran (IRR)
Iran juga masuk dalam daftar negara dengan mata uang paling lemah terhadap dolar.
Nilai tukarnya 1 USD = 42.112,50 Rial Iran.
1 IRR = 0,000024 USD
Pelemahan rial Iran dipicu oleh sanksi ekonomi internasional dan ketidakstabilan geopolitik. Padahal Iran dikenal sebagai salah satu negara dengan cadangan minyak dan gas terbesar di dunia.
Dong Vietnam berada di posisi berikutnya dengan kurs 1 USD = 26.345 Dong Vietnam.
1 VND = 0,000038 USD.
Kip Laos juga mengalami pelemahan signifikan terhadap dolar AS. Nilai tukarnya 1 USD = 26.315,78 Kip Laos atau 1 LAK = 0,000038 USD. Laos yang bergantung pada ekspor sumber daya alam ikut terdampak kondisi ekonomi global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Web Investing