Kamis, 02 JULI 2026 • 11:29 WIB

Kelapa, Kakao hingga Cengkih, Mengenal Komoditas Perkebunan Unggulan Konawe Raya

Author

Ilustrasi buah kelapa (AI Generated) (Mufida)

SULTRA - Komoditas perkebunan di Konawe dan wilayah Konawe Raya memiliki karakter yang berbeda di setiap kabupaten. Kabupaten Konawe dikenal dengan kelapa, kakao, jambu mete, dan lada. Konawe Selatan berkembang sebagai sentra kelapa sawit dan kakao, sementara Konawe Utara mengandalkan kelapa, kakao, dan nilam. Adapun Konawe Kepulauan memiliki potensi besar pada komoditas kelapa, cengkih, pala, serta jambu mete. Keragaman tersebut menjadikan kawasan Konawe Raya sebagai salah satu pusat perkebunan rakyat yang berperan penting dalam menopang ekonomi masyarakat Sulawesi Tenggara.

Baca juga: Mengintip Kekayaan Alam! Berikut Komoditas Perkebunan Unggulan di Bombana

Kabupaten Konawe, Kelapa dan Kakao Menjadi Andalan Perkebunan

Kabupaten Konawe memang lebih dikenal sebagai salah satu lumbung padi Sulawesi Tenggara. Namun di balik kuatnya sektor pangan, perkebunan rakyat juga berkembang cukup pesat dan menjadi sumber pendapatan masyarakat di sejumlah kecamatan.

Kelapa Masih Menjadi Tanaman Perkebunan Terluas
Kelapa merupakan salah satu tanaman perkebunan yang paling banyak ditemukan di Kabupaten Konawe. Kebun-kebun kelapa tersebar di berbagai wilayah pedesaan dan menjadi sumber penghasilan masyarakat melalui penjualan buah segar maupun kopra. Permintaan kopra yang relatif stabil membuat tanaman ini tetap dipertahankan oleh petani sebagai investasi jangka panjang.

Baca juga: Dari Kulit Kakao ke Smart Farming, Pertanian Modern Mulai Menggeliat di Sultra

Kakao Tetap Memiliki Nilai Ekonomi Tinggi

Selain kelapa, kakao masih menjadi komoditas penting di Kecamatan Amonggedo, Wonggeduku Barat, Lambuya, Routa, hingga Uepai. Sejumlah penelitian dan data pemerintah desa menunjukkan bahwa kakao masih menjadi salah satu sumber pendapatan utama masyarakat pedesaan di Konawe.

Pemerintah daerah juga terus mendorong rehabilitasi tanaman kakao agar produktivitasnya kembali meningkat.

Jambu Mete dan Lada Mulai Dikembangkan

Sebagian petani mulai mengembangkan jambu mete dan lada sebagai tanaman pelengkap. Sistem tumpang sari yang diterapkan membuat lahan dapat dimanfaatkan lebih optimal sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap satu komoditas.

Konawe Selatan, Sentra Kelapa Sawit dan Kakao Sulawesi Tenggara

Berbeda dengan Kabupaten Konawe, sektor perkebunan di Konawe Selatan berkembang lebih beragam karena didukung areal perkebunan yang luas.

Kelapa Sawit Menjadi Penggerak Ekonomi Baru

Kelapa sawit menjadi salah satu komoditas terbesar di Konawe Selatan. Perkebunan sawit berkembang melalui perusahaan maupun kebun rakyat yang tersebar di Kecamatan Angata, Mowila, Landono, Baito, dan beberapa wilayah lainnya. Keberadaan perkebunan sawit menciptakan lapangan kerja bagi ribuan masyarakat, mulai dari sektor budidaya hingga pengangkutan hasil panen.

Kakao Tetap Dipertahankan Petani

Walaupun sawit berkembang pesat, kakao masih menjadi komoditas yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Kelompok tani di sejumlah kecamatan masih mengandalkan kakao sebagai sumber pendapatan utama. Pemerintah daerah secara rutin menyalurkan bibit unggul dan melakukan pendampingan agar kualitas hasil panen semakin baik.

Kelapa dan Jambu Mete Melengkapi Komoditas Perkebunan

Wilayah pesisir Konawe Selatan juga menghasilkan kelapa dalam jumlah cukup besar. Sementara jambu mete berkembang pada daerah dengan kondisi lahan yang lebih kering dan menjadi tambahan penghasilan bagi masyarakat.

Konawe Utara Memiliki Potensi Kelapa, Nilam, dan Kakao

Masyarakat pesisir Konawe Utara telah lama mengembangkan perkebunan kelapa. Produksi kelapa umumnya diolah menjadi kopra sebelum dipasarkan ke luar daerah.

Dalam beberapa tahun terakhir, tanaman nilam juga mulai dikembangkan oleh sejumlah kelompok tani karena memiliki nilai jual yang tinggi sebagai bahan baku minyak atsiri. Komoditas ini dinilai memiliki prospek yang baik karena permintaan industri parfum dan kosmetik terus meningkat.

Kakao tetap dibudidayakan di sejumlah kecamatan seperti Asera, Andowia, dan Oheo. Selain itu, sebagian masyarakat juga mulai mengembangkan lada sebagai alternatif sumber pendapatan.

Konawe Kepulauan Mengandalkan Kelapa, Cengkih, dan Pala

Karakter wilayah kepulauan membuat Konawe Kepulauan memiliki komoditas yang berbeda dibanding kabupaten lain di Konawe Raya. Hampir seluruh wilayah Konawe Kepulauan memiliki kebun kelapa yang dikelola masyarakat secara turun-temurun. Buah kelapa dipasarkan dalam bentuk segar maupun diolah menjadi kopra yang memiliki nilai jual lebih tinggi.

Kawasan perbukitan di Konawe Kepulauan sangat mendukung pertumbuhan tanaman cengkih. Saat musim panen tiba, hasil cengkih menjadi salah satu sumber pendapatan terbesar masyarakat karena harga jualnya relatif tinggi.

Selain cengkih, pala juga menjadi tanaman perkebunan yang cukup banyak ditemukan. Aroma dan kualitas pala dari kawasan kepulauan memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai komoditas bernilai ekspor. Jambu mete juga masih dipertahankan sebagai tanaman produktif di beberapa desa.

Perkebunan Menjadi Penggerak Ekonomi Konawe Raya

Sektor perkebunan memiliki peran besar dalam menghidupkan ekonomi pedesaan di Konawe Raya. Aktivitas mulai dari pembibitan, pemeliharaan tanaman, panen, hingga distribusi hasil perkebunan menciptakan lapangan pekerjaan bagi ribuan masyarakat.

Komoditas seperti kelapa sawit, kakao, cengkih, dan kelapa juga menjadi bahan baku bagi berbagai industri sehingga memiliki nilai ekonomi yang terus berkembang.

Tantangan yang Masih Dihadapi Petani

Curah hujan yang tidak menentu sering berdampak pada masa berbunga dan panen tanaman. Selain itu, serangan hama serta penyakit tanaman masih menjadi persoalan yang membutuhkan pendampingan intensif dari penyuluh pertanian. Fluktuasi harga pasar dunia juga memengaruhi pendapatan petani, terutama untuk komoditas kakao dan kelapa sawit.

Dukungan Pemerintah untuk Meningkatkan Produktivitas

Pemerintah kabupaten di wilayah Konawe Raya bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara terus menjalankan berbagai program pengembangan perkebunan. Program tersebut meliputi bantuan bibit unggul, rehabilitasi tanaman tua, penyuluhan budidaya, penguatan kelompok tani, hingga peningkatan kualitas pascapanen.

Selain meningkatkan produksi, pemerintah juga mulai mendorong hilirisasi hasil perkebunan agar komoditas tidak hanya dijual dalam bentuk bahan mentah, tetapi dapat diolah menjadi produk bernilai tambah.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dinas Perkebunan Dan Hortikultura Prov. Sulawesi Tenggara

Author

Mufida

Editor
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU