Ilustrasi cengkih. (Freepik/rawpixel.com) (Mufida)
SULTRA - Sebagai kota yang menjadi gerbang ekonomi Kepulauan Buton, Bau-Bau memiliki posisi strategis dalam distribusi hasil pertanian dan perkebunan. Meskipun luas lahan perkebunannya tidak sebesar kabupaten lain di Sulawesi Tenggara, sejumlah komoditas tetap menjadi sumber penghasilan penting bagi masyarakat di wilayah pinggiran kota dan kawasan perdesaan.
Baca juga: Produk Unggulan Pertanian di Kendari: Komoditas, Wilayah, dan Peluang Pengembangan
1. Kelapa
Kelapa menjadi salah satu komoditas perkebunan yang paling mudah ditemukan di Bau-Bau. Tanaman ini tumbuh baik di wilayah pesisir dan telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Buton.
Selain dijual dalam bentuk buah segar, kelapa juga diolah menjadi kopra, minyak kelapa tradisional, hingga bahan baku berbagai produk makanan.
2. Cengkih
Cengkih merupakan tanaman rempah yang memiliki nilai jual tinggi. Komoditas ini banyak dibudidayakan masyarakat karena cocok dengan kondisi iklim di wilayah Kepulauan Buton. Hasil panen cengkih biasanya dipasarkan ke pedagang pengumpul sebelum didistribusikan ke berbagai daerah di Indonesia.
3. Pala
Selain cengkih, pala juga menjadi salah satu komoditas rempah yang berkembang di beberapa wilayah sekitar Bau-Bau. Tanaman ini memiliki nilai ekonomi karena hampir seluruh bagiannya dapat dimanfaatkan, mulai dari biji hingga fuli pala.
Baca juga: Dari Kulit Kakao ke Smart Farming, Pertanian Modern Mulai Menggeliat di Sultra
4. Jambu Mete
Jambu mete menjadi salah satu tanaman perkebunan yang cukup identik dengan kawasan Kepulauan Buton. Komoditas ini banyak dibudidayakan karena mampu tumbuh pada lahan kering dan berbatu yang cukup umum ditemukan di wilayah tersebut. Biji mete memiliki harga jual yang relatif tinggi dan menjadi salah satu produk unggulan yang dipasarkan hingga ke luar daerah.
5. Kakao
Kakao atau cokelat juga termasuk komoditas perkebunan yang memiliki potensi besar. Permintaan pasar yang terus meningkat membuat tanaman ini masih menjadi pilihan bagi sebagian petani. Kakao dapat memberikan nilai tambah yang signifikan bagi perekonomian rumah tangga petani.
Aktivitas perkebunan di Bau-Bau umumnya terkonsentrasi di wilayah yang masih memiliki lahan produktif, seperti kawasan Kecamatan Bungi, Sorawolio, dan Lea-Lea. Di wilayah tersebut, masyarakat memanfaatkan lahan pekarangan maupun kebun rakyat untuk menanam kelapa, jambu mete, kakao, dan berbagai tanaman rempah. Sebagian hasil panen kemudian dipasarkan melalui Bau-Bau yang berfungsi sebagai pusat perdagangan di Kepulauan Buton.
Sektor perkebunan masih menjadi salah satu sumber pendapatan penting bagi masyarakat, terutama yang tinggal di daerah pinggiran kota. Komoditas seperti jambu mete, cengkih, dan kakao memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi ketika harga pasar sedang baik.
Selain memberikan pendapatan langsung kepada petani, sektor ini juga menciptakan lapangan kerja pada kegiatan pengolahan, pengemasan, hingga distribusi hasil panen.
Keberadaan Pelabuhan Murhum Bau-Bau turut mendukung pemasaran hasil perkebunan ke berbagai daerah, sehingga membuka peluang perdagangan yang lebih luas.
Meski memiliki potensi besar, sektor perkebunan di Bau-Bau juga menghadapi sejumlah tantangan. Perubahan cuaca yang tidak menentu dapat memengaruhi produktivitas tanaman, terutama pada komoditas yang sangat bergantung pada musim.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Riset Penulis