Jumat, 15 MEI 2026 • 21:09 WIB

Kaya Rempah dan Cita Rasa, Kenali Macam-Macam Minuman Khas Asal Sultra

Author

Ilustrasi minuman berempah. (Freepik/jcomp) (Mufida)

SULTRA - Selain makanan khas, Sulawesi Tenggara juga memiliki minuman khas yang menjadi bagian penting dari kekayaan kuliner daerah yang masih bertahan hingga sekarang. Mulai dari minuman rempah tradisional, olahan kelapa, hingga sajian segar khas pesisir, setiap daerah di Sultra memiliki racikan unik dengan cita rasa dan filosofi tersendiri.

Beberapa minuman tradisional di Sulawesi Tenggara berasal dari budaya masyarakat pesisir dan kepulauan yang memanfaatkan bahan alami seperti jahe, gula aren, santan, hingga buah lokal tropis. Sajian ini tidak hanya diminum untuk melepas dahaga, tetapi juga dipercaya memiliki manfaat kesehatan.

Baca juga: Mau Makanan Sehat? Sinimi Masonggi Saja!

Rekomendasi Minuman Khas Sulawesi Tenggara yang Wajib Dicicipi

Saraba: Minuman Jahe Hangat yang Populer di Kendari dan Buton

Saraba menjadi salah satu minuman tradisional paling dikenal di Sulawesi Tenggara, terutama di Kendari dan wilayah pesisir lainnya.

Bahan utama:

  • Jahe
  • Santan
  • Gula merah
  • Susu atau telur (variasi tertentu)

Rasanya hangat, manis legit dan terasa sedikit pedas dari jahe. Saraba biasanya diminum malam hari atau saat musim hujan karena dipercaya membantu menghangatkan tubuh dan meningkatkan stamina.

Di beberapa warung kopi tradisional Kendari, saraba masih disajikan menggunakan gelas besar dengan aroma jahe yang cukup kuat. Minuman sederhana yang efeknya kadang lebih ampuh membangunkan tubuh dibanding motivasi hidup dari media sosial.

Es Kelapa Muda Buton: Segar dan Kaya Rasa Alami

Wilayah kepulauan seperti Buton dan Wakatobi memiliki kelapa dengan rasa air yang terkenal segar.

Es kelapa muda khas pesisir Sultra biasanya disajikan dengan sirup lokal, gula aren cair, dan jeruk nipis. Perpaduan rasa manis dan segarnya cocok untuk cuaca panas khas wilayah pesisir.

Air Nira Tradisional: Minuman Alami dari Pohon Aren

Di beberapa daerah pedesaan Sulawesi Tenggara, masyarakat masih mengonsumsi air nira hasil sadapan pohon aren.

Ciri khasnya:

  • Rasa manis alami
  • Sedikit aroma fermentasi
  • Disajikan segar setelah disadap

Selain diminum langsung, nira juga menjadi bahan dasar pembuatan gula merah tradisional.

Baca juga: Liburan ke Sultra? Jangan Lupa Borong Deretan Buah Khas Ini

Kopi Tradisional Wakatobi dan Kolaka

Meski tidak sepopuler daerah penghasil kopi besar di Indonesia, beberapa wilayah Sultra memiliki budaya minum kopi tradisional yang cukup kuat.

Kopi lokal biasanya disajikan dengan gula aren, diseduh sederhana dan menggunakan biji kopi lokal robusta. Warung kopi tradisional di Kendari dan Kolaka masih mempertahankan cara penyeduhan klasik dengan rasa pahit yang cukup pekat.

Teh Jahe dan Rempah Tradisional

Selain saraba, masyarakat Sultra juga mengenal berbagai minuman berbahan rempah seperti:

  • Teh jahe
  • Wedang serai
  • Rebusan kayu manis dan cengkeh

Minuman ini umum ditemukan di rumah-rumah warga maupun warung tradisional.

Khasiat yang dipercaya:

  • Menghangatkan tubuh
  • Meredakan masuk angin
  • Membantu menjaga daya tahan tubuh

Bahan Dasar Alami dan Keunikan Proses Pembuatannya

Sebagian besar minuman khas Sulawesi Tenggara dibuat dari bahan alami yang mudah ditemukan di wilayah tropis. Bahan yang sering digunakan antara lain:

  • Kelapa
  • Jahe
  • Gula merah
  • Aren
  • Serai
  • Rempah-rempah lokal

Proses pembuatannya umumnya masih tradisional, tanpa banyak bahan pengawet atau campuran modern. Karena itu, cita rasa minuman khas daerah cenderung lebih autentik dan kuat dibanding minuman instan kekinian yang kadang namanya lebih panjang daripada daftar bahannya sendiri.

Rekomendasi Tempat Menikmati Minuman Tradisional di Sultra

Beberapa lokasi yang bisa didatangi apabila ingin berburu minuman khas Sulawesi Tenggara:

  • Warung kopi tradisional Kendari
  • Kawasan kuliner Kota Baubau
  • Kedai pesisir Wakatobi
  • Pasar tradisional di Kolaka dan Raha

Wisatawan biasanya juga bisa menemukan minuman tradisional ini saat festival budaya, kuliner malam, dan acara adat daerah.

Minuman khas daerah bukan hanya soal rasa, tetapi juga bagian dari identitas budaya masyarakat. Setiap racikan tradisional menyimpan kebiasaan turun-temurun, pengetahuan lokal tentang rempah, dan cara masyarakat beradaptasi dengan lingkungan tropis.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Riset Penulis

Author

Mufida

Editor
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU