Kamis, 02 JULI 2026 • 12:13 WIB

Potensi Komoditas Perkebunan di Kolaka, Ada Kakao, Kelapa Sawit Hingga Pala

Author

Ilustrasi buah pala (Magnific/atlascompany) (Mufida)

SULTRA - Kakao masih menjadi komoditas perkebunan unggulan terbesar di Kolaka, disusul kelapa sawit, kelapa, lada, hingga pala yang mulai dikembangkan di sejumlah wilayah. Berbagai program pemerintah, mulai dari rehabilitasi tanaman kakao, distribusi bibit unggul, hingga penguatan kelompok tani terus dilakukan agar sektor perkebunan tetap menjadi sumber penghasilan ribuan keluarga petani.

Nama Kolaka memang identik dengan kawasan industri dan pelabuhan ekspor mineral. Namun ketika memasuki wilayah pedesaan seperti Samaturu, Wolo, Tanggetada, hingga Watubangga, hamparan kebun menjadi pemandangan yang tak kalah dominan. Aktivitas panen, pengeringan biji kakao, hingga perdagangan hasil perkebunan masih menjadi rutinitas masyarakat yang menggerakkan ekonomi desa setiap tahunnya.

Baca juga: Jambu Mete Bukan Satu-satunya, Ini Hasil Perkebunan Muna yang Layak Dikenal

Data Dinas Perkebunan dan Hortikultura Sulawesi Tenggara menunjukkan luas areal kakao di Kabupaten Kolaka mencapai 25.106 hektare dengan produksi sekitar 8.450 ton pada 2024. Komoditas tersebut dikelola oleh sekitar 19.529 kepala keluarga petani, menjadikan Kolaka sebagai salah satu sentra kakao terbesar di provinsi ini.

Baca juga: Kelapa, Kakao hingga Cengkih, Mengenal Komoditas Perkebunan Unggulan Konawe Raya

Daftar Komoditas Perkebunan Unggulan di Kolaka

Kakao Masih Menjadi Primadona Perkebunan Kolaka

Tidak banyak komoditas yang mampu bertahan sebagai penopang ekonomi masyarakat selama puluhan tahun seperti kakao. Tanaman ini masih mendominasi areal perkebunan rakyat di Kolaka dan menjadi sumber pendapatan utama ribuan keluarga.

Sentra produksi tersebar di Kecamatan Samaturu, Wolo, Tanggetada, Baula, Latambaga hingga Iwoimendaa. Hampir setiap musim panen, biji kakao dari wilayah tersebut dipasarkan ke berbagai daerah di Sulawesi bahkan menjadi bagian dari rantai pasok industri pengolahan cokelat nasional. Besarnya potensi itu membuat pemerintah terus memprioritaskan pengembangan kakao. Berdasarkan data statistik perkebunan Sulawesi Tenggara, Kolaka memiliki lebih dari 16 ribu hektare tanaman kakao produktif dengan produktivitas sekitar 510 kilogram per hektare.

Kelapa Sawit Terus Berkembang Bersama Aktivitas Ekonomi Daerah

Perkebunan sawit berkembang di kawasan Watubangga, Polinggona, dan sebagian wilayah Tanggetada. Kehadiran komoditas ini bukan hanya meningkatkan produksi sektor perkebunan, tetapi juga menciptakan lapangan kerja mulai dari pembibitan, pemeliharaan kebun, hingga distribusi tandan buah segar.

Perkembangan sawit juga mendorong tumbuhnya aktivitas ekonomi di sekitar kawasan perkebunan, mulai dari jasa transportasi, perdagangan pupuk, hingga usaha kecil yang melayani kebutuhan pekerja.

Lada Menjadi Alternatif yang Mulai Banyak Dilirik Petani

Harga lada yang cenderung stabil dalam beberapa tahun terakhir membuat sebagian petani Kolaka mulai melirik komoditas ini sebagai sumber pendapatan tambahan. Tanaman lada umumnya dibudidayakan menggunakan sistem tumpang sari bersama kakao maupun tanaman tahunan lainnya. Cara tersebut dinilai lebih efisien karena lahan dapat dimanfaatkan secara maksimal tanpa harus membuka kebun baru.

Selain memberikan tambahan penghasilan, diversifikasi tanaman juga membantu petani mengurangi risiko ketika salah satu komoditas mengalami penurunan harga.

Kelapa Tetap Bertahan Sebagai Komoditas Tradisional

Meskipun perkembangan sawit cukup pesat, tanaman kelapa belum kehilangan perannya. Kawasan pesisir Kolaka masih dipenuhi kebun kelapa yang telah dikelola masyarakat secara turun-temurun. Hasil panennya dijual sebagai kelapa segar maupun diolah menjadi kopra yang dipasarkan ke berbagai daerah.

Permintaan kopra yang relatif stabil membuat banyak petani tetap mempertahankan tanaman kelapa sebagai investasi jangka panjang. Selain menghasilkan buah, hampir seluruh bagian pohon kelapa juga memiliki nilai ekonomi sehingga tetap menjadi komoditas yang menguntungkan.

Pala Mulai Mendapat Perhatian Pemerintah

Berbeda dengan beberapa tahun sebelumnya, pala mulai menjadi salah satu komoditas yang dikembangkan pemerintah di Kabupaten Kolaka. Pada 2024, Dinas Perkebunan dan Hortikultura Sulawesi Tenggara menyalurkan 7.600 bibit pala kepada kelompok tani di Kabupaten Kolaka sebagai bagian dari program pengembangan komoditas perkebunan bernilai tinggi. Bantuan tersebut disertai pendampingan teknis agar tanaman pala dapat berkembang optimal dan menjadi sumber pendapatan baru bagi petani.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya berfokus pada kakao, tetapi juga mulai mendorong diversifikasi komoditas perkebunan.

Wilayah Sentra Penghasil Perkebunan di Kolaka

Samaturu masih dikenal sebagai salah satu sentra kakao terbesar. Watubangga berkembang dengan kombinasi perkebunan sawit dan kakao, sementara Tanggetada memiliki potensi kakao, kelapa, dan lada. Wilayah Iwoimendaa yang memiliki topografi berbukit juga dinilai potensial untuk pengembangan tanaman bernilai tinggi seperti kopi dan pala.

Sebaran komoditas yang beragam tersebut menjadi kekuatan ekonomi Kolaka karena tidak bergantung pada satu jenis tanaman saja.

Potensi Ekonomi yang Menghidupi Ribuan Petani

Puluhan ribu kepala keluarga menggantungkan pendapatan dari hasil panen kakao, kelapa sawit, kelapa, maupun lada. Aktivitas ekonomi yang tercipta juga melibatkan pedagang pengumpul, penyedia sarana produksi pertanian, jasa angkutan hasil panen, hingga pelaku usaha pengolahan hasil perkebunan.

Potensi tersebut memberikan kontribusi besar terhadap perputaran ekonomi lokal sekaligus membuka peluang pengembangan industri berbasis komoditas perkebunan.

Tantangan Perkebunan Bukan Lagi Luas Lahan, tetapi Nilai Tambah

Persoalan utama sektor perkebunan Kolaka saat ini tidak hanya berkaitan dengan produktivitas tanaman. Sejumlah penelitian mengenai kakao di Kolaka menunjukkan sebagian besar petani masih menjual hasil panen dalam bentuk biji kering tanpa melalui proses fermentasi maupun pengolahan lanjutan. Akibatnya, nilai jual yang diterima petani belum optimal dibanding produk kakao yang telah diolah.

Selain itu, banyak tanaman kakao yang telah berumur tua sehingga membutuhkan rehabilitasi agar produktivitasnya kembali meningkat. Kondisi tersebut menjadi alasan pemerintah terus mendorong pelatihan pascapanen dan penguatan industri hilir berbasis kakao.

Upaya Pemerintah Mengembangkan Agribisnis Kolaka

Selain program rehabilitasi kakao, pemerintah juga menyalurkan bibit pala, melakukan pendampingan kelompok tani, hingga memperkuat penyuluhan budidaya tanaman perkebunan. Pendekatan tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan hasil panen, tetapi juga memperkuat kualitas produk agar memiliki daya saing lebih tinggi di pasar nasional.

Pengembangan industri pengolahan hasil perkebunan juga mulai didorong sehingga komoditas unggulan Kolaka tidak lagi hanya dijual sebagai bahan mentah, melainkan menjadi produk bernilai tambah yang memberikan keuntungan lebih besar bagi petani.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dinas Perkebunan Dan Hortikultura Prov. Sulawesi Tenggara

Author

Mufida

Editor
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU