Jumat, 24 APRIL 2026 • 17:56 WIB

Kabuenga, Tradisi Mencari Jodoh ala Wakatobi di Sulawesi Tenggara

Author

Tradisi Kabuenga di Wakatobi. (Youtube/Anak Wakatobi) (Mufida)

SULTRA - Salah satu tradisi pernikahan di Sulawesi Tenggara berasal dari Wakatobi, yakni tradisi Kabuenga. Kabuenga bukan sekadar ritual seremonial, melainkan sebuah mekanisme sosial untuk mempertemukan laki-laki dan perempuan dalam suasana adat yang terjaga. Tradisi ini menjadi ruang interaksi yang memperhatikan etika, norma, dan nilai budaya dalam proses menemukan pasangan hidup.

Baca juga: Malam Kajiria di Wakatobi, Tradisi Akhir Ramadhan di Sultra

Asal-usul Tradisi Kabuenga di Wakatobi

Kabuenga berasal dari kearifan lokal masyarakat pesisir di Wakatobi yang menjunjung tinggi kesopanan dan tata krama dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan. Di masa lalu, interaksi bebas seperti sekarang tentu tidak lazim, sehingga masyarakat menciptakan ruang khusus yang tetap memungkinkan perkenalan, tetapi dalam pengawasan adat.

Tradisi ini biasanya dilakukan dalam rangkaian acara tertentu, seperti pesta adat atau kegiatan komunitas, di mana pemuda dan pemudi dapat saling mengenal secara lebih dekat.

Tata Cara Pelaksanaan Tradisi Kabuenga

Pelaksaan tradisi Kabuenga memiliki karakteristik sebagai berikut.

  • Pemuda dan pemudi berkumpul dalam satu ruang atau arena tertentu
  • Interaksi dilakukan melalui cara simbolik, seperti saling melempar isyarat atau komunikasi terbatas
  • Ada pengawasan dari tokoh adat atau orang tua
  • Tidak ada kontak fisik bebas, semua dijaga dalam batas norma adat

Dalam beberapa praktik, perempuan biasanya berada dalam posisi tertentu (misalnya di dalam rumah atau ruang khusus), sementara laki-laki mencoba menarik perhatian dengan cara-cara yang sopan dan kreatif.

Makna Filosofis di Balik Tradisi Kabuenga

Kabuenga mengandung nilai-nilai penting, seperti:

Menjaga Martabat Perempuan

Interaksi dilakukan tanpa melanggar batas kesopanan, sehingga perempuan tetap dihormati.

Seleksi Sosial yang Sehat

Proses pencarian pasangan tidak hanya berdasarkan fisik, tetapi juga sikap, etika, dan kemampuan berkomunikasi.

Peran Komunitas dalam Pernikahan

Pernikahan bukan urusan pribadi semata, tetapi melibatkan pengawasan dan restu sosial.

Menghindari Hubungan yang Tidak Sehat

Dengan adanya aturan adat, potensi konflik atau hubungan yang merugikan dapat diminimalisir.

Baca juga: Makna Tradisi Syukur, Kasambu-Sambu di Baubau

Properti dan Persiapan dalam Tradisi Kabuenga

Tradisi ini tidak membutuhkan dekorasi mewah, tapi tetap memiliki elemen penting.

  • Busana adat yang sopan dan rapi
  • Ruang atau lokasi khusus sebagai arena interaksi
  • Kehadiran tokoh adat sebagai pengawas

Di era sekarang, Kabuenga mungkin terasa sangat lokal bagi sebagian orang yang terbiasa dengan pendekatan instan. Namun jika dilihat lebih dalam, tradisi ini justru menawarkan konsep pencarian pasangan yang lebih terarah dan bertanggung jawab.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Riset Penulis

Author

Mufida

Editor
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU