Ilustrasi daun pacar pada tradisi Kajiria. (AI Generated) (Mufida)
SULTRA - Berbagai tradisi akhir Ramadhan di Sultra masih terus dilestarikan oleh masyarakat di Bulan Ramadhan, salah satunya adalah Malam Kajiria di Pulau Wangiwangi, Kabupaten Wakatobi. Tradisi ini menjadi bagian penting dalam menyambut malam Lailatulqadar, khususnya pada malam ke-27 Ramadan.
Kegiatan Malam Kajiria diselenggarakan di Masjid Nurul Amal, Desa Posalu, Kecamatan Wangiwangi. Tradisi ini telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi simbol kuat keterikatan masyarakat dengan nilai-nilai keagamaan dan budaya lokal.
Baca juga: Menyambut Hari Kemenangan, Menilik Suasana Malam Takbiran di Kendari
Malam Kajiria tidak sekadar menjadi ritual budaya, tetapi juga sarat dengan makna spiritual. Salah satu ciri khas dari tradisi ini adalah penggunaan daun pacar atau yang dikenal sebagai Hepatirangga, yang digunakan untuk mewarnai kuku.
Penggunaan daun pacar ini melambangkan rasa syukur atas datangnya malam Lailatul qadar, sekaligus menjadi bentuk ekspresi kegembiraan dalam menyambut Hari Raya Idulfitri. Tradisi ini juga mencerminkan harapan akan keberkahan dan cahaya spiritual di penghujung Ramadan.
Tema yang diangkat dalam pelaksanaan tahun ini adalah 'Hepatirangga Melala'. Kata “Melala” yang berarti “bersinar” menggambarkan harapan agar tradisi ini terus hidup dan memberikan manfaat, tidak hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai sarana memperkuat nilai-nilai spiritual masyarakat.
Menariknya, pelaksanaan Malam Kajiria tidak lepas dari peran generasi muda. Tradisi ini kembali dihidupkan melalui inisiatif anak-anak muda setempat yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian budaya.
Keterlibatan generasi muda menunjukkan bahwa tradisi akhir Ramadhan di Sultra tidak hanya bertahan karena kebiasaan, tetapi juga karena adanya kesadaran kolektif untuk menjaga identitas budaya di tengah perubahan zaman.
Dalam pelaksanaannya, masyarakat dari berbagai kalangan usia turut berpartisipasi. Laki-laki dan perempuan saling membantu memasangkan daun pacar di kuku masing-masing.
Aktivitas ini tidak hanya bersifat simbolis, tetapi juga memperkuat nilai persaudaraan dan kebersamaan dalam kehidupan sosial masyarakat. Tradisi ini menjadi ruang interaksi yang mempererat hubungan antarwarga.
Baca juga: 6 Tradisi Unik Menyambut Ramadan di Sulawesi Tenggara yang Jarang Diketahui
Secara tradisional, daun pacar diolah dengan cara yang cukup unik. Pada masa lalu, daun tersebut dilumatkan dengan cara dikunyah, kemudian ditempatkan di atas kuku dan dibungkus menggunakan dedaunan agar tidak mudah lepas.
Selain itu, masyarakat juga menyiapkan penerangan tradisional dengan mencampurkan kemiri dan sulu. Sulu sendiri merupakan getah dari pohon tertentu yang digunakan sebagai bahan bakar alami.
Penerangan ini kemudian dinyalakan di rumah masing-masing, menciptakan suasana temaram yang khas. Nuansa tersebut semakin memperkuat kekhidmatan dalam menyambut malam-malam terakhir Ramadan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Facebook