Pertunjukan ogoh-ogoh di Buton, Sulawesi Tenggara. (Dok. Facebook) (Mufida)
SULTRA - Perayaan Hari Raya Nyepi tidak hanya berlangsung meriah di Bali, tetapi juga dapat ditemukan di berbagai daerah lain di Indonesia, termasuk melalui pertunjukan ogoh-ogoh di Sulawesi Tenggara. Tradisi ini menjadi bagian penting dalam rangkaian perayaan Nyepi, khususnya bagi umat Hindu yang ada di wilayah tersebut.
Pertunjukan ogoh-ogoh tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga sarat dengan nilai budaya dan spiritual yang mendalam.
Hari Raya Nyepi merupakan hari suci umat Hindu yang menandai Tahun Baru Saka. Perayaan ini identik dengan suasana hening, di mana umat Hindu menjalankan Catur Brata Penyepian, yaitu:
Tidak menyalakan api (amati geni)
Tidak bekerja (amati karya)
Tidak bepergian (amati lelungan)
Tidak bersenang-senang (amati lelanguan)
Namun sebelum memasuki hari hening tersebut, terdapat rangkaian kegiatan yang justru penuh semarak, salah satunya adalah pawai ogoh-ogoh.
Baca juga: 4 Desa Wisata Unggulan di Pulau Muna yang Menyimpan Alam, Budaya, dan Tradisi Lokal
Pertunjukan ogoh-ogoh biasanya dilakukan sehari sebelum Nyepi, yang dikenal sebagai malam pengerupukan. Ogoh-ogoh merupakan patung besar yang menggambarkan sosok Bhuta Kala, simbol dari sifat buruk atau energi negatif dalam kehidupan manusia.
Di Sulawesi Tenggara, tradisi ini dilaksanakan oleh komunitas Hindu dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat, termasuk pemuda dan anak-anak. Daerah di Sulawesi Tenggara yang ikut menyemarakkan pertunjukan ogoh-ogoh adalah Bau-bau dan Buton.
Pawai ogoh-ogoh biasanya diiringi dengan musik tradisional dan diarak keliling lingkungan, menciptakan suasana yang meriah sekaligus sakral.
Di balik bentuknya yang menyeramkan, ogoh-ogoh memiliki makna yang dalam. Patung ini melambangkan sifat-sifat negatif seperti amarah, keserakahan, dan keegoisan.
Setelah diarak, ogoh-ogoh biasanya dibakar sebagai simbol pemusnahan energi negatif tersebut. Proses ini menjadi refleksi bagi manusia untuk membersihkan diri sebelum memasuki hari Nyepi. Jadi, ini bukan sekadar parade patung besar untuk hiburan. Ada filosofi bermakna membuang keburukan yang cukup serius di baliknya.
Baca juga: Dua Warisan Budaya Buton Selatan Ditetapkan Sebagai WBTb Indonesia 2025
Seiring waktu, pertunjukan ogoh-ogoh tidak hanya menjadi kegiatan keagamaan, tetapi juga memiliki potensi sebagai daya tarik wisata budaya. Banyak masyarakat yang datang untuk menyaksikan langsung pawai ini, baik untuk memahami budaya maupun sekadar menikmati suasana.
Namun, penting untuk tetap menjaga esensi spiritual dari tradisi ini agar tidak berubah menjadi sekadar hiburan tanpa makna. Berikut beberapa potret pertunjukan ogoh-ogoh di Buton dan Baubau.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Facebook