Sabtu, 22 NOVEMBER 2025 • 16:42 WIB

Banjir Lumpur Kolaka Picu Kecaman: Walhi Sultra Minta Proyek Nikel di Pomalaa Dihentikan Sementara

Author

Banjir Lumpur Kolaka Picu Kecaman: Walhi Sultra Minta Proyek Nikel di Pomalaa Dihentikan Sementara. (Instagram/walhisultra) (Mufida)

SULTRA - Banjir lumpur kembali menghantui warga Desa Oko dan Lamedai di Kabupaten Kolaka, memicu reaksi keras dari Direktur Walhi Sultra, Andi Rahman. Ia menilai kejadian ini bukan insiden baru, melainkan tanda bahwa kawasan industri nikel di Pomalaa telah menciptakan kerusakan lingkungan yang semakin parah.

Dari hasil pemantauan Walhi, luapan lumpur yang menyapu permukiman dan lahan pertanian itu berawal dari pembukaan lahan skala besar untuk pengembangan kawasan industri PT Indonesia Pomalaa Industry Park (IPIP) dan PT Vale Indonesia Tbk. Andi menyebut pekerjaan konstruksi tersebut berjalan tanpa pengamanan lingkungan memadai sehingga daerah aliran sungai dipenuhi sedimen dan tutupan hutan menyusut drastis.

Baca juga: WALHI Sulawesi Tenggara Laporkan 5 Perusahaan ke Kejaksaan Agung Terkait Dugaan Perusakan Lingkungan

Dampaknya mudah ditebak, air sungai tak mampu menahan debit hujan, berubah kecokelatan, lalu masuk ke rumah-rumah dan sawah warga. Andi menilai kedua perusahaan itu gagal menjalankan kewajiban dalam izin lingkungan yang telah diberikan, membuat masyarakat lagi-lagi harus menanggung kerugian.

Ia menegaskan bahwa kerusakan tersebut tak hanya soal banjir, tapi juga menyangkut hak masyarakat atas lingkungan hidup yang sehat. Air bersih tercemar, sawah rusak, dan warga mustahil merasa aman setiap kali hujan turun.

Baca juga: Dugaan Pengrusakan di Lahan Tambang Kapontori Telah Memiliki Tersangka

Walhi Sultra mendesak pemerintah pusat dan daerah agar segera mengambil langkah tegas, termasuk menghentikan sementara seluruh aktivitas pembangunan industri IPIP dan Vale di Pomalaa sampai ada jaminan perlindungan lingkungan yang jelas. Hingga berita ini diturunkan, Humas PT Vale Kolaka, Mirwanto Muda, belum memberikan tanggapan atas upaya konfirmasi. Sebelumnya, banjir lumpur bercampur kerikil telah menggenangi ratusan hektare sawah di Desa Oko-oko dan Lamedai sejak Senin, 10 November 2025.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: WALHI

Author

Mufida

Editor
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU