Patung Oputa Yi Koo di Baubau (Dok. ANTARA FOTO) (Mufida)
SULTRA - Tidak banyak monumen perjuangan yang dibangun di Sultra, namun perjuangan dikenang dengan pembangunan dalam bentuk benteng, kompleks keraton, dan situs bersejarah yang menjadi saksi perjalanan Kesultanan Buton mempertahankan kedaulatannya selama berabad-abad. Hingga kini, kawasan tersebut menjadi destinasi wisata edukasi yang memperkenalkan sejarah perjuangan masyarakat Buton kepada generasi muda maupun wisatawan.
Berbeda dengan sejumlah kota lain yang memiliki monumen kemerdekaan berbentuk tugu, Baubau menyimpan warisan sejarah melalui bangunan asli yang masih berdiri dan memiliki nilai historis tinggi.
Baca juga: Bukan Sekadar Benteng, Inilah Wisata Sejarah di Sulawesi Tenggara yang Membentuk Identitas Daerah
Jika berbicara mengenai monumen perjuangan di Baubau, nama pertama yang tidak bisa dilewatkan adalah Benteng Keraton Buton. Benteng yang berada di Kelurahan Melai, Kecamatan Murhum, Kota Baubau ini merupakan simbol pertahanan Kesultanan Buton sejak abad ke-16.
Benteng tersebut mengelilingi kawasan Keraton Buton dengan panjang dinding mencapai lebih dari 2,7 kilometer. Guinness World Records bahkan pernah mencatatnya sebagai benteng terluas di dunia berdasarkan keliling struktur bentengnya. Fungsi utamanya bukan sekadar melindungi istana, tetapi juga menjadi sistem pertahanan menghadapi ancaman Portugis, VOC Belanda, hingga bajak laut yang melintasi Laut Banda.
Selain benteng, kawasan keraton juga memiliki beberapa peninggalan bersejarah seperti Masjid Agung Keraton Buton, Batu Popaua, Batu Wolio, hingga kompleks makam para Sultan Buton yang menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah daerah.
Monumen lain yang sering dikunjungi wisatawan ialah Patung Sultan Murhum yang berada di kawasan Kota Baubau. Patung tersebut dibangun untuk mengenang Lakilaponto atau Sultan Murhum sebagai pendiri Kesultanan Buton sekaligus tokoh penting dalam sejarah pemerintahan di wilayah ini.
Selain itu, ada juga patung yang baru dibangun yakni Patung Oputa Yi Koo berdiri sebagai penghormatan kepada La Ode Manarfa, tokoh yang dikenal dengan gelar Oputa Yi Koo. Sosok ini dikenang sebagai pahlawan dan pemimpin yang memiliki kontribusi besar dalam sejarah Kesultanan Buton. Patung tersebut menjadi salah satu landmark Kota Baubau sekaligus pengingat semangat kepemimpinan, keberanian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Baca juga: Mengenang Sejarah, Ini Daftar Pahlawan Nasional Kelahiran Sulawesi Tenggara
Benteng Keraton Buton bukan monumen perjuangan kemerdekaan Indonesia tahun 1945, tetapi menjadi simbol perlawanan masyarakat Buton terhadap berbagai ancaman kolonial jauh sebelum Indonesia merdeka. Kesultanan Buton menerapkan sistem pertahanan yang kuat melalui pembangunan benteng batu kapur yang mengikuti kontur perbukitan. Letaknya memungkinkan pasukan mengawasi perairan sekitar Baubau sehingga setiap kapal asing yang mendekat dapat dipantau sejak dini.
Keberadaan benteng juga menunjukkan kemampuan masyarakat lokal membangun sistem pertahanan yang mandiri. Semangat mempertahankan wilayah inilah yang kemudian menjadi bagian dari nilai perjuangan masyarakat Buton hingga masa kemerdekaan Indonesia.
Sementara itu, Patung Sultan Murhum melambangkan jasa pendiri Kesultanan Buton dalam membangun pemerintahan yang terorganisasi serta memperkuat identitas masyarakat Buton.
Benteng Keraton Buton berada di kawasan Kelurahan Melai, Kecamatan Murhum, Kota Baubau, Sulawesi Tenggara. Lokasinya hanya sekitar 10 hingga 15 menit berkendara dari pusat Kota Baubau atau Pelabuhan Murhum.
Akses jalan menuju kawasan benteng sudah beraspal dan dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat. Pengunjung juga dapat memanfaatkan transportasi daring atau kendaraan sewaan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Riset Penulis