SULTRA - Beberapa fasilitas pengolahan nikel di kawasan industri strategis Indonesia dilaporkan mulai menghentikan sebagian besar operasionalnya. Penutupan ini terjadi di tengah tren pelemahan harga nikel global yang terus menekan margin keuntungan para pelaku industri.
Berdasarkan informasi dari Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), setidaknya empat perusahaan besar telah terdampak, termasuk beberapa pemain utama di kawasan industri seperti Morowali, Konawe, dan Weda Bay. Langkah penghentian produksi ini menunjukkan gejala meluasnya tekanan yang dirasakan oleh industri smelter nikel nasional.
Baca juga: Warga Bombana Protes Tambang Ilegal Cinnabar: Cemari Sungai dan Ancam Ribuan Sapi
Salah satu perusahaan yang paling terdampak adalah PT Gunbuster Nickel Industry (GNI), yang beroperasi di dalam kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Sulawesi Tengah. Hampir seluruh lini produksi perusahaan ini dikabarkan telah berhenti sejak awal tahun 2024. Dari total lebih dari 20 lini produksi nickel pig iron (NPI) yang dimiliki, lebih dari 15 disebut telah tidak lagi beroperasi, mendekati kondisi penghentian total.
Selain GNI, perusahaan lain seperti PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel (ITSS) di IMIP, PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) di Konawe, Sulawesi Tenggara, dan PT Huadi Nickel Alloy Indonesia (HNI) di kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Maluku Utara, juga mengalami gangguan operasional serupa.
Baca juga: Tewas Terjebak di Palka, ABK Asal Jabar Ditemukan Meninggal di Kapal Tambang Morosi
Djoko Widajatno, yang merupakan anggota Dewan Penasihat APNI, menjelaskan bahwa tren harga nikel yang terus melemah sepanjang tahun menjadi salah satu penyebab utama penurunan aktivitas industri ini. Margin yang tergerus membuat perusahaan-perusahaan tersebut terpaksa mengambil langkah efisiensi, termasuk dengan menutup sebagian atau seluruh fasilitas produksi.
Di sisi lain, Kementerian Perindustrian melalui Direktorat Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) turut menyoroti kondisi ini. Pemerintah mencatat bahwa PT GNI, yang masih menjadi bagian dari Jiangsu Delong Nickel Industry Co., kini tengah menunggu hasil rapat kreditur yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus mendatang. Hasil dari pertemuan tersebut diperkirakan akan menentukan langkah lanjutan perusahaan.
Baca juga: Tambang Bermasalah di Routa Ancam Lingkungan dan Hak Warga, Tujuh Perusahaan Dilaporkan
Fenomena penurunan aktivitas di sektor smelter nikel ini menjadi sinyal serius bagi industri logam nasional, terutama di tengah ambisi hilirisasi yang terus didorong oleh pemerintah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Kementerian Perindustrian