Kasus penculikan anak sedang ramai terjadi. (Freepik/jcomp) (Mufida)
SULTRA - Kota Baubau sempat memanas gara-gara unggahan media sosial yang mengklaim ada penculikan anak. Narasi itu menyebar cepat, memicu kekhawatiran orang tua, dan seperti biasa, lebih banyak yang panik dulu daripada mengecek fakta. Setelah dilakukan penyelidikan, Polres Baubau memastikan kabar tersebut tidak punya dasar.
Penyelidikan polisi menunjukkan bahwa kejadian yang dialami seorang siswi kelas 2 SD, berinisial KA, bukanlah percobaan penculikan. Insiden pada Rabu siang itu ternyata tindak pencurian yang dijalankan dengan cara lama yakni berpura-pura membutuhkan bantuan. Kapolres Baubau, AKBP Mayestika Hidayat, menegaskan bahwa tidak ada bukti yang mengarah pada penculikan, terlepas dari dramatisasi warganet. Ia menjelaskan bahwa pelaku memanfaatkan kepolosan korban untuk mengambil perhiasan yang dipakainya.
Pelaku, seorang perempuan berinisial SA, sudah ditangkap sehari setelah kejadian. Dari keterangan polisi, kasus dimulai saat KA berjalan pulang sepulang sekolah. Di depan lorong menuju rumahnya, seorang pengendara motor menghampiri dan meminta bantuan menunjukkan sebuah alamat.
Baca juga: Polres Kolaka Tangkap Pelaku Pencurian Motor di Lalohea
KA yang tidak curiga kemudian mengikuti arahan pelaku dan dibawa dengan motor menuju kawasan Jembatan Beli. Di lokasi itu, pelaku mengambil anting emas milik korban yang ditaksir bernilai sekitar empat juta rupiah dengan dalih ingin menjaganya agar tidak hilang. Setelah mengambil perhiasan tersebut, pelaku menurunkan korban dengan alasan ingin mengisi bahan bakar.
Dalam kondisi bingung, KA akhirnya meminta pertolongan warga untuk kembali pulang. Orang tuanya langsung melapor ke polisi, yang kemudian bergerak cepat hingga SA berhasil diamankan.
Baca juga: Polres Konawe Temukan 55 Paket Sabu Siap Edar di Rumah Seorang Mahasiswa
Pihak kepolisian memastikan KA dalam kondisi sehat dan tetap beraktivitas normal. Namun, kejadian ini kembali mengingatkan bahwa kepercayaan berlebih pada informasi liar di media sosial bisa menimbulkan kepanikan tidak perlu. Polisi mengimbau warga agar lebih waspada terhadap modus penipuan serupa, terutama yang menargetkan anak-anak, tetapi tidak ikut-ikutan menyebarkan kabar tanpa verifikasi.
Dalam video yang beredar, pelaku juga telah mengakui perbuatannya. Kasus ini menegaskan lagi bahwa sensasi media sosial sering kali berdiri jauh dari fakta lapangan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Polres Bau-bau