Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Jumat, 28 NOVEMBER 2025 • 18:41 WIB

Sawah Tersedak Lumpur: Konflik Lingkungan Terjadi di Mondoe

Sawah Tersedak Lumpur: Konflik Lingkungan Terjadi di MondoeIlustrasi lingkungan rusak karena aktivitas pertambangan. (Freepik) (Mufida)

SULTRA - Ketegangan soal dampak lingkungan kembali mencuat di Desa Mondoe, Kecamatan Palangga Selatan, setelah sejumlah petani melaporkan turunnya produktivitas sawah mereka. Persoalan tersebut dikaitkan dengan aktivitas penambangan nikel di wilayah yang berada tidak jauh dari lahan pertanian.

Wawan, salah satu petani yang sawahnya berada di Dusun 1, menyatakan bahwa perubahan kondisi lahannya semakin terasa dalam beberapa tahun terakhir. Sawah tadah hujan miliknya kini lebih sering diselimuti endapan lumpur setiap kali turun hujan. Ia menyebut lokasi penambangan nikel hanya berjarak belasan meter dari dua hektare sawahnya, membuat limpasan sedimen tidak terhindarkan.

Baca juga: Dugaan Pengrusakan di Lahan Tambang Kapontori Telah Memiliki Tersangka

Menurut penuturannya, saluran air memang pernah dibersihkan, tetapi kerusakan di area hulu tetap membuat sedimen turun lagi. Bahkan sumber air bersih yang dulunya ia manfaatkan tidak lagi dapat digunakan sehingga ia harus membeli air untuk kebutuhan rumah tangga. Kondisi ini membuat beban biaya sehari-hari meningkat di luar kebutuhan bertani.

Keluhan serupa juga datang dari petani lain yang mengandalkan bendungan kecil sebagai tempat penampungan air. Sedimen pasir dan lumpur menumpuk di lokasi itu, dan ia mencurigai perubahan tersebut berkaitan dengan kegiatan tambang di sekitar kawasan.

Baca juga: Banjir Lumpur Kolaka Picu Kecaman: Walhi Sultra Minta Proyek Nikel di Pomalaa Dihentikan Sementara

Di sisi berbeda, pemerintah desa tidak sejalan dengan keluhan para petani. Kepala Desa Mondoe, Aswan, menyampaikan bahwa keberadaan perusahaan justru membantu masyarakat dalam beberapa aspek dan menyangkal adanya dampak signifikan terhadap lahan pertanian. Ia menilai kondisi yang dikemukakan petani tidak sepenuhnya menggambarkan situasi keseluruhan desa.

Polemik yang terjadi menampilkan dua wajah Mondoe yang sama-sama merasa memiliki dasar, antara petani yang melihat sawahnya berubah, dan pemerintah desa yang menilai perusahaan memiliki kontribusi. Persoalan ini memperlihatkan rapuhnya keseimbangan antara aktivitas industri dan ruang hidup warga yang bergantung pada lahan pertanian.

Ketidakselarasan pandangan tersebut juga menandakan perlunya evaluasi lebih rinci terkait tata kelola lingkungan di Mondoe agar keluhan masyarakat tidak terus berulang, sekaligus memastikan kegiatan industri tetap berada dalam koridor yang aman bagi ruang hidup warga.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Facebook

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Sawah Tersedak Lumpur: Konflik Lingkungan Terjadi di Mondoe

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!