Selasa, 19 MEI 2026 • 14:00 WIB

Mengenal Tokoh-Tokoh Penting di Balik Hari Kebangkitan Nasional 1908

Author

Tugu Kebangkitan Nasional. (Dok. Wikipedia) (Mufida)

SULTRA - Tokoh-tokoh Hari Kebangkitan Nasional merupakan para pelopor pergerakan nasional Indonesia yang berperan penting dalam membangun kesadaran persatuan melawan penjajahan Belanda. Nama-nama seperti dr. Soetomo, dr. Wahidin Soedirohoesodo, Ki Hajar Dewantara, hingga Cipto Mangunkusumo menjadi bagian penting dari lahirnya semangat nasionalisme Indonesia sejak awal abad ke-20, terutama melalui organisasi Budi Utomo yang berdiri pada 20 Mei 1908.

Baca juga: Panduan Wisata Museum Kebangkitan Nasional: Lokasi, Koleksi, dan Harga Tiket

Peran Sentral dr. Wahidin Soedirohoesodo dan dr. Soetomo

Dalam sejarah Hari Kebangkitan Nasional, dua nama yang paling sering disebut adalah dr. Wahidin Soedirohoesodo dan dr. Soetomo.

dr. Wahidin Soedirohoesodo: Pencetus Gagasan Kebangkitan

dr. Wahidin Soedirohoesodo dikenal sebagai tokoh yang menggagas pentingnya pendidikan bagi kaum pribumi di masa penjajahan Belanda. Ia aktif berkeliling Jawa untuk mengkampanyekan dana pendidikan bagi pelajar pribumi agar bisa mendapatkan kesempatan belajar yang lebih baik.

Gagasannya kemudian menginspirasi mahasiswa STOVIA di Batavia untuk membentuk organisasi modern yang bergerak demi kemajuan bangsa. Meski bukan pendiri langsung Budi Utomo, dr. Wahidin dianggap sebagai sosok yang menyalakan ide awal kebangkitan nasional.

Baca juga: Mengapa 20 Mei Diperingati Sebagai Hari Kebangkitan Nasional? Ini Asal Usulnya

dr. Soetomo: Pendiri Budi Utomo

dr. Soetomo merupakan tokoh utama pendiri Budi Utomo pada 20 Mei 1908 bersama mahasiswa STOVIA lainnya. Organisasi ini menjadi tonggak lahirnya pergerakan nasional modern di Indonesia.

Melalui Budi Utomo, dr. Soetomo mendorong perjuangan lewat jalur pendidikan, sosial, dan peningkatan martabat rakyat pribumi. Pendekatan ini menjadi pembeda dari perlawanan sebelumnya yang masih bersifat kedaerahan dan sporadis. Nama dr. Soetomo kemudian dikenang sebagai salah satu simbol penting Kebangkitan Nasional Indonesia.

Daftar Mahasiswa STOVIA Pendiri Organisasi Budi Utomo

Selain dr. Soetomo, organisasi Budi Utomo juga didirikan oleh sejumlah mahasiswa STOVIA lainnya yang memiliki semangat nasionalisme tinggi. Beberapa tokoh pendiri Budi Utomo antara lain:

  • Goenawan Mangoenkoesoemo
  • Soeradji Tirtonegoro
  • Soelaiman
  • Angka Nitirohardjo
  • Mohammad Saleh
  • Soewarno
  • Djajadiningrat
  • R. Tjipto Mangoenkoesoemo

Mereka merupakan generasi muda terpelajar yang mulai menyadari pentingnya persatuan bangsa di tengah dominasi kolonial Belanda. Budi Utomo sendiri awalnya berfokus pada bidang pendidikan dan kebudayaan, namun pengaruhnya kemudian berkembang menjadi simbol awal pergerakan nasional Indonesia.

Pengaruh Tokoh Tiga Serangkai dalam Pergerakan Nasional

Selain tokoh Budi Utomo, sejarah kebangkitan nasional juga tidak bisa dilepaskan dari peran Tiga Serangkai, yakni Ki Hajar Dewantara, Douwes Dekker, dan dr. Cipto Mangunkusumo. Ketiganya dikenal sebagai tokoh pergerakan nasional yang aktif menyuarakan kritik terhadap kolonialisme Belanda.

Ki Hajar Dewantara

Ki Hajar Dewantara dikenal sebagai pelopor pendidikan nasional Indonesia dan pendiri Taman Siswa. Ia percaya bahwa pendidikan adalah alat utama membangun kesadaran bangsa.

Tulisan terkenalnya yang berjudul “Als Ik Een Nederlander Was” menjadi kritik tajam terhadap pemerintah kolonial Belanda. Karena sikap kritisnya, ia sempat diasingkan ke Belanda. Kini, Ki Hajar Dewantara dikenang sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia.

Douwes Dekker

Douwes Dekker atau Danudirja Setiabudi merupakan tokoh Indo-Eropa yang aktif memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Ia mendirikan Indische Partij bersama Ki Hajar Dewantara dan Cipto Mangunkusumo.

Organisasi ini menjadi salah satu partai politik pertama yang secara terang-terangan menyerukan kemerdekaan Indonesia.

dr. Cipto Mangunkusumo

dr. Cipto Mangunkusumo dikenal sebagai tokoh nasionalis yang vokal menentang kebijakan kolonial Belanda. Ia aktif menulis kritik sosial dan memperjuangkan hak-hak rakyat pribumi.

Pemikirannya dianggap sangat progresif pada masanya dan memberi pengaruh besar terhadap gerakan nasional Indonesia.

Tokoh-tokoh Hari Kebangkitan Nasional membuktikan bahwa perjuangan tidak selalu harus dilakukan dengan senjata. Organisasi, tulisan, pendidikan, dan gagasan juga dapat menjadi alat perlawanan yang kuat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Riset Penulis

Author

Mufida

Editor
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU