SULTRA - Kisah Hajar dan Ismail merupakan salah satu narasi paling kuat tentang ketegaran, keimanan, dan perjuangan seorang ibu. Peristiwa ini bukan hanya menjelaskan asal-usul air Zamzam, tetapi juga menjadi dasar dari salah satu rukun haji, yaitu sa’i antara Safa dan Marwah.
Kisah ini bermula dari keputusan Nabi Ibrahim AS yang, atas perintah Allah SWT, meninggalkan istri dan anaknya di sebuah lembah tandus yang kelak dikenal sebagai Makkah. Tidak ada sumber air, tidak ada kehidupan, hanya hamparan pasir dan panas yang nyaris tak tertahankan.
Baca juga: Kisah Lengkap Ujian Nabi Ibrahim Menyembelih Ismail dan Asal Mula Kurban
Ditinggalkan di Lembah Tandus Makkah: Ujian Keimanan Siti Hajar
Ketika Nabi Ibrahim AS meninggalkan Siti Hajar dan bayi Ismail, ia hanya membawa bekal seadanya. Dalam sebuah riwayat hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Siti Hajar sempat bertanya:
"Apakah ini perintah Allah?"
Ketika dijawab “ya”, ia pun berkata:
"Kalau begitu, Allah tidak akan menyia-nyiakan kami."
Dalam Al-Qur’an, doa Nabi Ibrahim juga mengabadikan peristiwa ini dalam Surah Ibrahim ayat 37:
"Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman di dekat rumah-Mu (Baitullah)..."
Berlari Antara Safa dan Marwah: Perjuangan Mencari Air
Ketika persediaan air habis dan bayi Ismail mulai menangis kehausan, Siti Hajar tidak tinggal diam. Ia berlari mencari air, dari Bukit Safa ke Marwah, bolak-balik hingga tujuh kali.
Peristiwa ini menjadi simbol ikhtiar maksimal manusia. Bahkan dalam kondisi terdesak, usaha tetap harus dilakukan sebelum berharap pada pertolongan.
Baca juga: Doa Minum Air Zam Zam dan Adabnya yang Sering Diabaikan
Hentakan Kaki Ismail dan Munculnya Air Zamzam
Di saat usaha Siti Hajar mencapai batas, pertolongan Allah datang dengan cara yang tidak terduga. Dari hentakan kaki bayi Ismail—atau dalam riwayat lain melalui malaikat Jibril—muncullah mata air yang kemudian dikenal sebagai Zamzam.
Air ini terus mengalir hingga kini, menjadi sumber kehidupan bagi Kota Makkah dan jutaan jamaah haji setiap tahunnya.
Rasulullah SAW bersabda:
"Air Zamzam itu sesuai dengan niat orang yang meminumnya." (HR. Ibnu Majah)
Awal Peradaban Makkah dari Sumur Zamzam
Keberadaan air di tengah gurun mengubah segalanya karena orang-orang mulai datang dan menetap. Lembah tandus berubah menjadi pusat kehidupan, yang kemudian berkembang menjadi Kota Makkah.
Dari sumber air hasil hentakan kaki seorang bayi, lahirlah sebuah peradaban besar.
Syariat Sa’i: Jejak Perjuangan yang Diabadikan
Apa yang dilakukan Siti Hajar tidak berhenti sebagai sejarah. Islam mengabadikannya menjadi bagian dari ibadah haji dan umrah, yaitu sa’i antara Safa dan Marwah. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 158 disebutkan:
"Sesungguhnya Safa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah..."
Artinya, setiap jamaah haji yang berlari kecil di antara dua bukit itu sebenarnya sedang mengulang jejak perjuangan seorang ibu yang berusaha menyelamatkan anaknya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Riset Penulis