Bagaimana sejarah asal-usul nama beberapa daerah di Sultra? (Freepik/tirachard) (Mufida)
SULTRA - Membahas asal usul nama daerah di Sultra bukan sekadar soal etimologi, tapi juga membuka jejak sejarah, cara hidup, dan cara berpikir masyarakatnya sejak masa lampau. Nama wilayah di Sulawesi Tenggara lahir dari bahasa lokal, legenda rakyat, hingga pengaruh administrasi kolonial, lalu mengalami perubahan seiring dinamika politik dan sosial.
Setiap nama daerah menyimpan cerita. Ada yang berasal dari alat sederhana masyarakat pesisir, ada pula yang dirangkum menjadi singkatan modern demi kebutuhan administrasi negara. Di sinilah identitas lokal Sulawesi Tenggara terbentuk dan terus diwariskan.
Nama Kendari diyakini berasal dari kata kandai, alat dari bambu atau kayu yang digunakan masyarakat pesisir untuk mendorong perahu di perairan dangkal Teluk Kendari. Dalam perkembangan bahasa dan penulisan, Kandai berubah menjadi Kandari, lalu Kendari sebagaimana dikenal saat ini. Penamaan ini mencerminkan kuatnya hubungan masyarakat Tolaki dengan laut dan aktivitas maritim sejak masa awal.
Berbeda dari daerah lain, nama Wakatobi bukan berasal dari legenda kuno, melainkan singkatan modern dari empat pulau utama: Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko. Meski terkesan administratif, nama ini justru berhasil membangun identitas global sebagai kawasan maritim dan pariwisata bahari kelas dunia, tanpa menghapus identitas pulau-pulau aslinya.
Asal usul nama Bau-Bau memiliki beberapa versi. Salah satu yang paling dikenal merujuk pada aktivitas pelabuhan yang ramai sejak masa Kesultanan Buton. Bau-Bau berkembang sebagai pusat perdagangan dan persinggahan kapal, sehingga namanya lekat dengan dinamika ekonomi pesisir. Dalam catatan sejarah, kota ini memiliki peran penting sebagai pintu masuk wilayah Buton.
Nama Muna merujuk pada pulau sekaligus suku yang mendiami wilayah tersebut. Dalam bahasa lokal, Muna berkaitan dengan identitas masyarakat yang telah lama menetap dan membangun sistem sosial, adat, serta bahasa sendiri. Nama ini relatif tidak berubah dari masa ke masa, menandakan kuatnya kontinuitas budaya lokal.
Baca juga: 6 Cerita Rakyat Populer dari Sulawesi Tenggara, Dari Gurita Penjaga Laut hingga Pangeran dari Bulan
Nama Buton diyakini berasal dari sebutan lokal terhadap wilayah atau kelompok masyarakat yang kemudian berkembang menjadi Kesultanan Buton. Dalam berbagai catatan kolonial, Buton dikenal sebagai kekuatan maritim yang memiliki sistem pemerintahan dan hukum adat yang tertata. Nama Buton pun bertahan hingga kini sebagai simbol sejarah politik dan budaya di kawasan timur Indonesia.
Penamaan nama daerah di Sulawesi Tenggara lahir dari kondisi geografis, aktivitas ekonomi, hingga nilai hidup masyarakatnya. Dari Kandai yang sederhana hingga Wakatobi yang modern, nama-nama ini menunjukkan bagaimana daerah di Sultra beradaptasi tanpa sepenuhnya kehilangan akar sejarahnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Riset Penulis