SULTRA - Peningkatan kasus influenza yang kerap disebut sebagai superflu kembali menjadi perhatian publik. Istilah ini merujuk pada varian influenza A H3N2, jenis virus yang dikenal mudah menular dan mampu menimbulkan spektrum gejala luas, mulai dari ringan hingga kondisi berat yang memerlukan perawatan medis.
Hingga akhir Desember 2025, Kementerian Kesehatan mencatat 62 kasus influenza A H3N2 yang tersebar di delapan provinsi. Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat menjadi wilayah dengan jumlah kasus terbanyak. Data menunjukkan kelompok perempuan mendominasi kasus hingga 64 persen, sementara rentang usia paling terdampak berada pada anak usia 1 sampai 10 tahun dengan proporsi 35 persen.
Baca juga: Ini Panduan Hadapi Banjir dan Longsor Saat Cuaca Ekstrem di Sultra
Juru Bicara Kementerian Kesehatan, Widyawati, menekankan pentingnya langkah pencegahan berbasis perilaku hidup bersih dan sehat. Menjaga kebersihan tangan, mencukupi waktu istirahat, serta mengonsumsi makanan bergizi dinilai menjadi fondasi utama dalam memperkuat daya tahan tubuh.
Selain itu, vaksinasi influenza tahunan direkomendasikan, terutama bagi kelompok berisiko tinggi seperti lansia, ibu hamil, dan individu dengan penyakit penyerta. Masyarakat juga diimbau untuk tidak beraktivitas di luar rumah saat sakit, menerapkan etika batuk, menggunakan masker, serta mengonsumsi obat sesuai anjuran medis untuk meredakan gejala.
Baca juga: Kasus HIV di Baubau Didominasi Usia Produktif, Dinkes Perkuat Pendampingan Psikologis
Penjelasan lebih lanjut disampaikan oleh anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A(K). Ia menegaskan bahwa H3N2 bukanlah virus baru, namun karakter penyebarannya yang cepat membuatnya tetap perlu diwaspadai. Penularan terjadi melalui droplet saat batuk atau bersin, serta kontak langsung dengan cairan pernapasan penderita.
Menurut Nastiti, sebutan superflu muncul karena kecepatan penularan virus ini, terutama di wilayah dengan suhu dingin. Varian H3N2 juga memiliki tingkat evolusi dan mutasi yang tinggi, sehingga berpotensi memicu lonjakan kasus influenza dalam skala besar.
Lonjakan tersebut dapat berdampak pada meningkatnya angka rawat inap dan tekanan terhadap fasilitas kesehatan, terutama di negara atau daerah dengan musim dingin yang panjang. Meski demikian, Nastiti menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan subclade H3N2 lebih mematikan dibandingkan varian influenza lain.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Kementerian Kesehatan