Rabu, 22 OKTOBER 2025 • 20:04 WIB

Kecelakaan Kapal di Sulawesi Tenggara Meningkat, Apa Penyebabnya?

Author

Ilustrasi gelombang laut yang tinggi. (Freepik/nikitabuida) (Mufida)

SULTRATransportasi laut antara pulau-pulau di wilayah Sulawesi Tenggara (Sultra) terus menjadi tulang punggung mobilitas masyarakat. Namun, sejumlah peristiwa mengkhawatirkan menunjukkan bahwa tingkat keamanan di jalur pelayaran masih jauh dari ideal.

Dalam 3 tahun terakhir, berbagai kasus kecelakaan di laut Sulawesi meningkat. Berdasarkan data, misalnya pada tanggal 19 September 2024, tim BASARNAS gabungan mengevakuasi total 139 penumpang dan awak kapal yang kandas di sekitar wilayah Pulau Wawonii, Kabupaten Konawe Kepulauan. Di bulan Februari 2024, sebuah kapal nelayan tenggelam di perairan yang sama, menewaskan 8 orang dari 11 awak setelah naiknya gelombang dan kondisi cuaca buruk.

Untuk bulan Oktober sendiri, baru saja terjadi kecelakaan laut di perairan Muna, yakni tabrakan kapal tongkang dan longboat milik nelayan. Kecelakaan tersebut memakan 3 korban nelayan dimana 1 sudah ditemukan meninggal dunia dan 2 lainnya masih dalam pencarian tim. Sebelumnya, beberapa nelayan juga menjadi korban kecelakaan di laut.

Baca juga: Keluarga Korban Kecelakaan Kapal Tongkang Muna Lakukan Ritual di Laut

Tantangan utama yang muncul dari berbagai kasus yang terjadi antara lain kondisi cuaca yang memburuk, gelombang tinggi, dan kendala pada kapal maupun pengoperasiannya. Misalnya, rute pelayaran antara Kendari dan Wakatobi kerap terancam oleh gelombang setinggi hingga 2,5 meter yang diwanti-wanti oleh BMKG Kendari. 

Sementara itu, pada 2 Agustus 2025, pihak KSOP dan BPTD Sultra melakukan aksi pembagian jaket pelampung dan sosialisasi keselamatan kepada pengguna kapal tradisional, sebagai upaya meningkatkan budaya pelayaran yang aman.  Di sisi regulasi dan pengawasan, meskipun pemerintah telah menetapkan sistem alur pelayaran (walaupun tidak secara spesifik untuk Sultra) melalui skema alur lalu lintas kapal (Traffic Separation Scheme) di beberapa wilayah, penerapan dan pengawasan di perairan kepulauan masih menemui kendala.

Baca juga: Korban Longboat Tertabrak Tongkang di Perairan Muna Ditemukan Meninggal Dunia

Walau jalur laut di Sultra sangat vital dan terus diusahakan untuk aman, kenyataannya masih terdapat kerentanan cukup tinggi: cuaca ekstrem, kandasnya kapal, serta pemakaian kapal dan prosedur keselamatan yang belum optimal. Maka dapat dikatakan bahwa jalur pelayaran di Sultra cukup aktif dan tersedia, namun keamanannya belum sepenuhnya dapat dianggap aman tanpa kewaspadaan ekstra.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author

Mufida

Editor
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU