Kegiatan simulasi kebencanaan di Kantor Gubernur Sulawesi Tenggara. (Instagram/sultraprov) (Mufida)
SULTRA - Sulawesi Tenggara kembali menguji kesiapan menghadapi bencana melalui latihan besar gabungan yang digelar pada Senin, 24 November 2025. Bertempat di halaman Kantor Gubernur, berbagai unsur penanganan darurat berkumpul untuk mengikuti apel siaga sekaligus simulasi penanganan gempa bumi dan tsunami.
Kegiatan berskala provinsi ini menjadi bagian dari strategi peningkatan kapasitas mitigasi bencana, terutama karena Sultra berada di kawasan rawan gempa. Pemerintah provinsi menempatkan agenda ini sebagai langkah penguatan sistem tanggap cepat, bukan sekadar formalitas tahunan.
Baca juga: Pemprov Sultra Perkuat Armada Tanggap Darurat Lewat Bantuan Penanggulangan Bencana
Gubernur Andi Sumangerukka menegaskan bahwa penyelenggaraan latihan ini merujuk langsung pada aturan nasional mengenai penanggulangan bencana. Ia menyebut Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 serta PP Nomor 21 Tahun 2008 sebagai dasar pelaksanaan simulasi yang menekankan pentingnya kesiapsiagaan sebelum bencana terjadi.
Ia menolak anggapan bahwa apel siaga hanya sebatas ritual protokoler. Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan implementasi dari visi pembangunan daerah yang menempatkan perlindungan masyarakat sebagai prioritas utama. Latihan ini, kata Andi, menjadi ruang evaluasi sejauh mana sektor darurat terintegrasi dan mampu merespons situasi kritis.
Baca juga: Sebelum Bencana Datang, Siapkan Peralatan Wajib Siaga Ini di Rumah
Dalam penjelasannya, Gubernur juga mengingatkan bahwa kajian risiko bencana Sultra tahun 2022–2026 menunjukkan tingkat kerentanan yang tinggi terhadap gempa dan tsunami. Lokasi provinsi yang berada di jalur tumbukan lempeng aktif membuat potensi ancaman selalu hadir.
Karena itu, ia meminta seluruh peserta simulasi untuk menjalani latihan secara serius. Gubernur mendorong mereka merasakan tekanan situasi, mengidentifikasi celah dalam prosedur, dan memastikan setiap langkah berorientasi pada keselamatan. Baginya, disiplin dalam simulasi adalah kunci mengurangi risiko ketika kejadian nyata datang tanpa peringatan.
Selain fokus pada respons awal, Andi juga memberi penekanan pada proses pemulihan pasca-bencana. Menurutnya, pemulihan cepat diperlukan untuk memastikan pelayanan publik tidak lumpuh berkepanjangan dan masyarakat bisa kembali menjalani aktivitasnya dengan aman.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Pemprov Sultra