Jumat, 10 APRIL 2026 • 19:20 WIB

Urutan Tata Cara Pelaksanaan Haji Sesuai Sunnah Rasulullah yang Mudah Dipahami

Author

Simak tata cara berhaji sesuai sunnah. (Freepik) (Mufida)

SULTRA - Tata cara haji menjadi hal mendasar agar setiap rangkaian ibadah tidak sekadar dilakukan, tetapi benar-benar dimaknai sesuai tuntunan. Di Indonesia, mayoritas jemaah menjalankan haji dengan metode tertentu yang dianggap lebih praktis. Namun, tanpa pemahaman alur yang jelas, tidak sedikit jemaah yang justru kebingungan di tengah pelaksanaan. 

Mengapa Mayoritas Jemaah Indonesia Memilih Jenis Haji Tamattu'?

Jika melihat praktik di lapangan, sebagian besar jemaah Indonesia menjalankan haji Tamattu’. Jenis ini memungkinkan jemaah untuk melaksanakan umrah terlebih dahulu, kemudian bertahallul (melepas ihram), sebelum melanjutkan ibadah haji pada waktu yang telah ditentukan.

Keunggulan haji Tamattu’ terletak pada fleksibilitasnya. Jemaah memiliki jeda waktu untuk beristirahat setelah umrah sebelum memasuki rangkaian puncak haji. Meski demikian, jemaah diwajibkan membayar dam (denda berupa penyembelihan hewan) sebagai konsekuensi dari jenis haji ini.

Baca juga: Kapan Lebaran Haji 2026? Ini Jadwal Lengkap Idul Adha dan Cuti Bersamanya

Tahap 1: Memulai Niat Ihram dari Titik Miqat yang Ditentukan

Rangkaian tata cara haji dimulai dari niat ihram di miqat, yaitu batas wilayah yang telah ditentukan. Di sinilah jemaah mengenakan pakaian ihram dan melafalkan niat haji atau umrah.

Beberapa hal penting saat ihram:

Menggunakan pakaian ihram (dua lembar kain putih bagi pria)
Menjaga larangan ihram, seperti tidak memotong kuku, tidak memakai wewangian, dan tidak berburu
Memperbanyak talbiyah sebagai bentuk panggilan kepada Allah

Tahap Ihram menandai perubahan status seorang jemaah menjadi “tamu Allah” yang harus menjaga kesucian lahir dan batin. 

Tahap 2: Inti Ibadah Haji (Wukuf di Padang Arafah)

Puncak dari seluruh rangkaian haji adalah wukuf di Arafah yang dilaksanakan pada 9 Dzulhijjah. Pada momen ini, jemaah berhenti sejenak dari aktivitas fisik dan fokus pada doa, dzikir, serta refleksi diri. Tidak ada ritual yang rumit, tetapi justru di sinilah esensi haji terasa paling dalam.

Wukuf dimulai sejak tergelincir matahari hingga terbenam. Jemaah dianjurkan untuk:

  • Memperbanyak doa dan istighfar
  • Mengingat kesalahan masa lalu
  • Memohon ampunan dan keberkahan hidup

Tahap 3: Mabit (Bermalam) di Muzdalifah dan Mina

Setelah Arafah, jemaah bergerak ke Muzdalifah untuk mabit atau bermalam. Di sini, jemaah juga mengumpulkan batu kerikil yang akan digunakan untuk lempar jumrah.

Baca juga: Info Resmi Jadwal Keberangkatan dan Kepulangan Jemaah Haji Sultra 2026

Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Mina, tempat jemaah kembali bermalam selama beberapa hari. Aktivitas mabit ini sering dianggap sekadar teknis, padahal mengandung nilai kesabaran dan kebersamaan yang tinggi.

Fasilitas yang terbatas dan jumlah jemaah yang sangat besar membuat tahap ini menjadi ujian tersendiri. Jadi, bukan hanya ibadah spiritual, tapi juga latihan mental.

Tahap 4: Lempar Jumrah, Tahallul (Bercukur), dan Tawaf Ifadah

Rangkaian berikutnya adalah lempar jumrah di Mina sebagai simbol perlawanan terhadap godaan setan. Lalu jamaah akan melakukan tahallul, yaitu mencukur atau memotong rambut sebagai tanda keluar dari ihram.

Selanjutnya melaksanakan tawaf Ifadah, yakni mengelilingi Ka’bah sebagai rukun haji. Setelah tahallul, sebagian larangan ihram sudah tidak berlaku. Namun, kesempurnaan haji baru tercapai setelah seluruh rangkaian selesai.

Selain itu, jemaah juga melakukan sa’i antara Safa dan Marwah sebagai bagian dari ibadah yang meneladani perjuangan Siti Hajar.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Riset Penulis

Author

Mufida

Editor
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU