Kamis, 09 APRIL 2026 • 17:18 WIB

Makna Filosofis di Balik Keberagaman Pakaian Adat Tradisional Sulawesi Tenggara

Author

Baju adat khas Sulawesi Tenggara. (Dok. Sanggar Nusantara) (Mufida)

SULTRA - Baju adat Sulawesi Tenggara bukan hanya sekadar pakaian tradisional, melainkan representasi identitas budaya yang diwariskan lintas generasi. Provinsi ini dikenal memiliki keberagaman suku, di antaranya Tolaki, Muna, dan Buton, yang masing-masing menghadirkan ciri khas busana dengan nilai filosofis mendalam.

Setiap pakaian adat tidak hanya mencerminkan estetika, tetapi juga status sosial, nilai spiritual, hingga peran seseorang dalam masyarakat. Dari bahan, warna, hingga aksesori, semuanya memiliki makna yang tidak dibuat asal-asalan.

Baca juga: Makna Motif Laut, Adat, dan Identitas yang Terlukis di Kain Batik Sulawesi Tenggara

Baju Adat Suku Buton: Simbol Status dan Filosofi Kehidupan

Masyarakat Buton memiliki ragam busana adat yang digunakan sesuai dengan kebutuhan acara, mulai dari kegiatan sakral hingga keseharian.

Salah satu yang paling dikenal adalah Balah Dada, pakaian pria yang identik dengan warna hitam sebagai simbol keterbukaan dan keadilan dalam kepemimpinan. Busana ini dilengkapi dengan destar, sarung, hingga keris sebagai pelengkap identitas.

Untuk perempuan, terdapat Kombo atau Bia Bia Itanu, yang didominasi warna putih dengan hiasan manik-manik dan benang emas. Warna putih melambangkan kesucian, harapan, serta kesejahteraan hidup.

Selain itu, ada pula busana khusus seperti:

  • Ajo Tandaki, digunakan dalam upacara penting oleh kalangan bangsawan
  • Kalambe, dikenakan saat tradisi Posuo (pingitan gadis dewasa)
  • Koboroko, yang menunjukkan strata sosial melalui jumlah lapisan sarung

Menariknya, dalam budaya Buton, jumlah lapisan sarung bukan sekadar gaya, tapi penanda status sosial.

Baju Adat Suku Muna

Berbeda dengan Buton yang cenderung kompleks, pakaian adat Suku Muna tampil lebih sederhana, namun tetap penuh filosofi.

Untuk pria, dikenal busana Bhadu, yang terdiri dari atasan, sarung, ikat pinggang logam, serta penutup kepala. Warna yang digunakan umumnya tegas, seperti hitam atau putih, dengan tambahan motif geometris pada sarung.

Sementara itu, perempuan Muna juga mengenakan Bhadu dengan variasi desain yang lebih feminin. Warna biru dan merah sering digunakan sebagai simbol keberanian dan keseimbangan hidup.

Selain Bhadu, terdapat juga Kutango, pakaian wanita dengan sentuhan warna emas dan penggunaan tiga lapis sarung. Lapisan ini bukan sekadar estetika, tetapi mencerminkan nilai kesopanan dan struktur berpakaian tradisional.

Baju Adat Suku Tolaki: Warisan Kinawo dari Kulit Kayu

Suku Tolaki memiliki sejarah unik dalam perkembangan baju adat Sulawesi Tenggara, yakni melalui penggunaan bahan alami berupa kulit kayu yang dikenal sebagai Kinawo.

Proses pembuatannya tidak sederhana. Kulit kayu diolah melalui perebusan, perendaman, hingga dipukul hingga tipis dan lentur. Teknik tradisional ini dikenal sebagai “monggawo”.

Seiring perkembangan zaman, bahan tekstil mulai digunakan, tetapi konsep dasar busana tetap dipertahankan.

Baca juga: Filosofi Rumah Adat di Sulawesi Tenggara, Jejak Identitas Suku Tolaki, Buton, hingga Muna

Pakaian adat Tolaki terbagi menjadi dua jenis utama:

1. Babu Nggawi Langgai (Pria)

Busana ini terdiri dari baju berlengan panjang dengan hiasan emas, celana panjang, sarung, serta destar. Keris juga menjadi pelengkap penting sebagai simbol kehormatan.

2. Babu Nggawi (Wanita)

Pakaian wanita Tolaki tampil lebih kompleks dengan rok panjang hingga mata kaki, atasan berhias, serta berbagai aksesori seperti kalung, anting, hingga gelang kaki. Dominasi warna merah dengan aksen emas mencerminkan kemakmuran, kekuatan, dan keanggunan perempuan Tolaki.

Dulu, busana ini hanya dikenakan oleh kalangan bangsawan. Namun kini, masyarakat umum juga dapat mengenakannya dalam acara adat, termasuk pernikahan dan seremoni resmi.

Makna Filosofis dalam Baju Adat Sulawesi Tenggara

Setiap detail dalam baju adat Sulawesi Tenggara memiliki arti tersendiri.

  • Warna hitam artinya ketegasan dan kepemimpinan
  • Putih berarti kesucian dan harapan
  • Merah dan emas bermakna keberanian serta kemakmuran
  • Lapisan sarung menjadi penanda status sosial

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Riset Penulis

Author

Mufida

Editor
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU