Ilustrasi rumah panggung sebagai rumah adat. (Freepik) (Mufida)
SULTRA - Keberadaan rumah adat di Sulawesi Tenggara bukan sekadar bentuk bangunan tradisional, tetapi cerminan nilai sosial, struktur adat, dan cara pandang masyarakat terhadap kehidupan. Setiap rumah adat lahir dari konteks budaya suku-suku besar di wilayah ini, seperti Tolaki, Buton, dan Muna, yang memiliki karakter arsitektur serta filosofi berbeda.
Hingga kini, rumah adat masih berperan dalam upacara adat, simbol pemerintahan tradisional, serta penanda identitas budaya daerah.
Rumah adat suku Tolaki dikenal dengan nama Laikas. Bangunan ini berbentuk rumah panggung dengan struktur kayu kuat dan atap sederhana. Laikas mencerminkan prinsip kalo sara, yaitu sistem nilai adat Tolaki yang menekankan keteraturan, kehormatan, dan keseimbangan sosial. Selain sebagai tempat tinggal, Laikas digunakan untuk musyawarah adat dan kegiatan sosial masyarakat.
Ciri khas Laikas:
Baca juga: Daftar UMKM Unggulan di Kendari, Dari Kuliner hingga Kerajinan
Di wilayah Buton, rumah adat yang paling dikenal adalah Malige, yang dulunya merupakan istana Sultan Buton. Empat lantai Malige melambangkan tingkatan kehidupan manusia serta struktur pemerintahan Kesultanan Buton. Malige kini berfungsi sebagai situs budaya dan destinasi edukasi sejarah di Kota Baubau.
Ciri khas Malige:
Suku Muna memiliki rumah adat bernama Lambu, yang juga berbentuk rumah panggung. Rumah adat Lambu mencerminkan filosofi tata krama, kesopanan, serta struktur sosial masyarakat Muna yang menjunjung adat dan hierarki keluarga.
Ciri khas Lambu:
Baca juga: Anjungan Teluk Kendari, Ikon Hiburan Malam Terbuka yang Ramah Keluarga
Secara umum, dari tiga rumah adat di Sulawesi Tenggara, semuanya memiliki kesamaan makna yaitu melambangkan hubungan manusia dengan alam, menjadi pusat kehidupan sosial dan adat, menjaga nilai gotong royong dan musyawarah serta arsitekturnya dirancang untuk menyesuaikan kondisi alam, seperti iklim tropis dan potensi bencana.
Saat ini, rumah adat tidak hanya berfungsi sebagai peninggalan budaya, tetapi juga:
Pelestarian rumah adat menjadi penting agar warisan budaya Sulawesi Tenggara tidak sekadar menjadi pajangan, tetapi tetap hidup dalam praktik sosial masyarakatnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Riset Penulis