Senin, 09 FEBRUARI 2026 • 12:58 WIB

Mengenal Makanan Khas Imlek, dari Makna Simbolik hingga Favorit di Sultra

Author

Ilustrasi makanan khas imlek. (Freepik) (Mufida)

SULTRA - Makanan khas Imlek bukan sekadar hidangan perayaan, tetapi simbol harapan, doa, dan nilai kehidupan yang diwariskan turun-temurun. Saat perayaan Tahun Baru Imlek, setiap sajian memiliki makna khusus, mulai dari kemakmuran, umur panjang, hingga keharmonisan keluarga. Tradisi ini masih dijaga oleh masyarakat Tionghoa di berbagai daerah Indonesia, termasuk di Sulawesi Tenggara.

Menariknya, beberapa makanan khas Imlek kini tidak hanya dikonsumsi saat perayaan, tetapi juga menjadi bagian dari kuliner sehari-hari yang akrab bagi masyarakat lokal.

Kue Keranjang, Simbol Keharmonisan dan Rezeki

Kue keranjang atau nian gao merupakan ikon utama perayaan Imlek. Teksturnya yang lengket melambangkan kelekatan hubungan keluarga, sementara rasanya yang manis menjadi simbol harapan hidup yang lebih baik di tahun mendatang.

Di Sulawesi Tenggara, kue keranjang banyak dijumpai di toko-toko Tionghoa menjelang Imlek dan sering diolah kembali dengan cara digoreng bersama telur atau kelapa parut agar lebih akrab dengan lidah lokal.

Mie Panjang Umur, Harapan Hidup Panjang

Mie panjang umur atau chang shou mian disajikan tanpa dipotong sebagai lambang umur panjang dan kesehatan. Filosofinya sederhana tapi tegas: semakin panjang mie, semakin panjang pula doa yang dipanjatkan.

Di beberapa rumah makan Tionghoa di Kendari dan sekitarnya, mie ini sering disajikan dengan kuah ringan dan topping sederhana, menyesuaikan selera masyarakat Sultra.

Baca juga: Mau Makanan Sehat? Sinimi Masonggi Saja!

Ikan Utuh, Lambang Kelimpahan

Dalam tradisi Imlek, ikan disajikan secara utuh karena melambangkan kelimpahan dan keberlanjutan rezeki. Kata “ikan” dalam bahasa Mandarin memiliki pelafalan yang serupa dengan “berlebih”.

Di wilayah pesisir Sulawesi Tenggara, makna ini terasa relevan. Ikan segar menjadi pilihan utama, baik dimasak kukus ala Tionghoa maupun diolah dengan bumbu yang lebih familiar bagi warga lokal.

Lumpia dan Jiaozi, Simbol Keberuntungan

Lumpia dan jiaozi (pangsit) dipercaya menyerupai bentuk batangan emas kuno. Karena itu, makanan ini diasosiasikan dengan kemakmuran dan keberuntungan. Di Sultra, lumpia lebih populer karena mudah diterima lintas budaya dan sering hadir dalam berbagai perayaan, tidak terbatas pada Imlek.

Baca juga: Butuh Healing? Nikmati Sinonggi dan Pokea di Hutan Pinus Desa Baini Konawe

Jeruk Mandarin, Harapan Baik di Awal Tahun

Jeruk mandarin hampir selalu hadir saat Imlek. Warna oranye keemasan melambangkan keberuntungan dan kebahagiaan. Buah ini juga sering dijadikan hantaran sebagai doa baik bagi penerimanya.

Keunikan makanan khas Imlek di Sulawesi Tenggara terletak pada proses akulturasi. Banyak hidangan Tionghoa yang kemudian menyesuaikan rasa, bahan, dan cara penyajian dengan budaya lokal, sehingga lebih inklusif dan diterima oleh berbagai kalangan.

Tradisi Imlek pun tidak lagi eksklusif, melainkan menjadi bagian dari keberagaman kuliner dan budaya yang hidup berdampingan di Sultra. Makanan khas Imlek menunjukkan bahwa kuliner bukan hanya soal rasa, tetapi juga narasi budaya dan nilai kehidupan. Di Sulawesi Tenggara, tradisi ini berkembang secara alami, memperkaya identitas daerah tanpa kehilangan makna aslinya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Riset Penulis

Author

Mufida

Editor
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU