Kamis, 22 JANUARI 2026 • 21:02 WIB

Kenali Situs Sejarah di Sulawesi Tenggara, Dari Benteng Kerajaan hingga Jejak Kolonial yang Masih Bertahan

Author

Ilustrasi situs sejarah. (Freepik/travel-photography) (Mufida)

SULTRA - Situs sejarah adalah lokasi yang menyimpan peninggalan masa lalu dan memiliki nilai penting bagi pemahaman perjalanan suatu daerah. Di Sulawesi Tenggara, situs sejarah di Sulawesi Tenggara menjadi bukti nyata perkembangan peradaban lokal, mulai dari masa kerajaan tradisional, pengaruh Islam, hingga kolonialisme. Situs-situs ini berfungsi sebagai sumber edukasi, identitas budaya, dan pengingat sejarah kolektif masyarakat.

Sejarah Singkat Sulawesi Tenggara

Wilayah Sulawesi Tenggara memiliki sejarah panjang yang ditandai oleh keberadaan kerajaan-kerajaan lokal seperti Kesultanan Buton, kerajaan Muna, dan komunitas adat Tolaki. Pada abad ke-17 hingga awal abad ke-20, wilayah ini juga berada di bawah pengaruh kolonial Belanda. Interaksi antara kekuasaan lokal dan kolonial membentuk struktur sosial, budaya, serta tata wilayah yang jejaknya masih bisa ditemukan melalui berbagai situs sejarah.

Daftar Situs Sejarah di Sulawesi Tenggara

1. Benteng Keraton Buton (Baubau)
Benteng Keraton Buton merupakan salah satu benteng terluas di dunia dan menjadi pusat Kesultanan Buton. Situs sejarah ini menjadi pusat pemerintahan dan pertahanan kesultanan, simbol kekuatan politik dan budaya Buton, dan saksi penyebaran Islam di wilayah Sulawesi Tenggara.

Baca juga: Bunga Tabebuya Putih Mekar, Benteng Wolio Semakin Instagramable!

2. Istana Malige (Baubau)
Malige adalah istana Sultan Buton yang mencerminkan sistem pemerintahan dan filosofi hidup masyarakat Buton.

3. Benteng Liya (Wakatobi)
Benteng ini dibangun sebagai sistem pertahanan masyarakat lokal dari ancaman luar, terutama pada masa konflik antarkerajaan dan kolonial.

4. Situs Permukiman Kuno Muna
Wilayah Muna menyimpan jejak permukiman tradisional dan makam tokoh adat yang mencerminkan struktur sosial masyarakat setempat.

5. Benteng dan Situs Kolonial Laiwui (Kendari)
Situs ini menjadi penanda awal berkembangnya Kendari sebagai pusat administrasi kolonial Belanda di Sulawesi Tenggara daratan.

Peninggalan Sejarah yang Dilindungi

Baca juga: Filosofi Rumah Adat di Sulawesi Tenggara, Jejak Identitas Suku Tolaki, Buton, hingga Muna

Beberapa situs sejarah di Sulawesi Tenggara telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh pemerintah daerah dan pusat. Upaya perlindungan meliputi:

  • Penetapan status cagar budaya
  • Pembatasan alih fungsi lahan
  • Konservasi bangunan bersejarah
  • Edukasi masyarakat sekitar
  • Nilai Historis dan Budaya Situs Sejarah Sulawesi Tenggara

Situs sejarah memiliki peran penting dalam:

  • Menjaga identitas budaya daerah
  • Menjadi sumber pembelajaran sejarah lokal
  • Mendukung pengembangan wisata edukatif
    Memperkuat rasa memiliki masyarakat terhadap warisan leluhur

Tanpa pelestarian yang serius, situs-situs ini berisiko hilang, bukan karena waktu, tetapi karena abai.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Riset Penulis

Author

Mufida

Editor
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU