Bunga anggrek serat. (Dok. Web Flora dan Fauna) (Mufida)
SULTRA - Bunga khas Sultra adalah Anggrek Serat (Dendrobium utile atau Diplocaulobium utile), flora identitas resmi Provinsi Sulawesi Tenggara yang memiliki keunikan berbeda dari jenis anggrek lainnya. Selain dikenal karena bentuknya yang khas, anggrek ini memiliki umbi semu yang mengandung serat alami yang sejak lama dimanfaatkan masyarakat lokal untuk berbagai kerajinan tradisional. Keberadaan Anggrek Serat tidak hanya penting dari sisi keanekaragaman hayati, tetapi juga memiliki nilai budaya yang erat dengan kehidupan masyarakat Sulawesi Tenggara.
Tidak banyak masyarakat yang mengetahui bahwa Sulawesi Tenggara memiliki flora identitas sendiri. Padahal, bunga ini telah lama menjadi simbol kekayaan alam daerah dan menjadi bagian dari warisan biodiversitas kawasan Wallacea yang terkenal memiliki tingkat endemisme tinggi.
Baca juga: Daftar Kerajinan Khas Sulawesi Tenggara yang Cocok Dijadikan Oleh-Oleh
Anggrek Serat ditetapkan sebagai flora identitas atau maskot resmi Provinsi Sulawesi Tenggara. Tanaman ini termasuk dalam keluarga anggrek atau Orchidaceae dan dikenal dengan nama ilmiah Dendrobium utile, yang kini juga dikenal sebagai Diplocaulobium utile.
Berbeda dengan banyak anggrek hias yang terkenal karena ukuran bunganya yang besar dan warna mencolok, daya tarik utama Anggrek Serat justru terletak pada bagian umbi semunya.
Umbi tersebut mengandung serat alami yang menjadi asal-usul nama Anggrek Serat. Serat inilah yang selama puluhan tahun dimanfaatkan masyarakat untuk berbagai kebutuhan kerajinan tradisional.
Bagi masyarakat Sulawesi Tenggara, khususnya Suku Tolaki, Anggrek Serat bukan sekadar tanaman hutan biasa. Dalam sejumlah penelitian etnobotani, tanaman ini dikenal dengan nama lokal seperti sorume, anomi, atau alemi. Serat yang dihasilkan digunakan sebagai bahan anyaman tradisional yang memiliki warna kuning keemasan alami.
Pada masa lalu, anyaman yang dibuat dari serat anggrek ini sering digunakan dalam berbagai kegiatan adat dan memiliki nilai simbolis tersendiri dalam kehidupan masyarakat lokal.
Secara fisik, Anggrek Serat memiliki ukuran yang relatif kecil dibanding banyak jenis anggrek lainnya. Tanaman ini hidup sebagai epifit, yakni menempel pada batang pohon tanpa merugikan pohon inangnya. Akar tanaman membentuk pola menyerupai roset yang unik, sementara umbi semunya berbentuk memanjang dengan warna hijau kekuningan mengilap.
Bunganya sendiri berukuran kecil dengan warna kuning lembut dan bentuk mahkota yang memanjang. Meski bunganya tidak terlalu mencolok, nilai utama tanaman ini justru berasal dari serat alami yang terkandung dalam umbinya. Serat tersebut dikenal kuat, halus, dan memiliki warna keemasan yang menarik.
Anggrek Serat tumbuh secara alami di kawasan hutan tropis dan daerah pedalaman Sulawesi, termasuk Sulawesi Tenggara. Tanaman ini umumnya ditemukan menempel pada pohon-pohon tua di kawasan hutan dataran rendah dengan ketinggian sekitar 0 hingga 150 meter di atas permukaan laut.
Baca juga: Wisata Keluarga di Kebun Raya Kendari, Ramah Anak dan Edukatif
Berdasarkan sejumlah penelitian, keberadaan Anggrek Serat pernah ditemukan di beberapa wilayah Sulawesi Tenggara seperti:
Daerah-daerah tersebut menjadi habitat penting bagi kelangsungan hidup flora khas ini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Riset Penulis, Wikipedia