Ilustrasi produk anyaman. (Freepik) (Mufida)
SULTRA - Indonesia dikenal sebagai negeri dengan kekayaan budaya yang tersebar hingga ke pelosok daerah, termasuk Sulawesi Tenggara. Beragam kerajinan khas Sultra lahir dari tradisi turun-temurun masyarakat lokal, mulai dari kain tenun, anyaman rotan, hingga ukiran kayu bernilai seni tinggi. Tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap adat, kerajinan tersebut kini juga menjadi produk ekonomi kreatif yang banyak diburu wisatawan sebagai oleh-oleh khas daerah.
Di sejumlah wilayah seperti Buton, Wakatobi, Muna, hingga Konawe, masyarakat masih mempertahankan teknik pembuatan tradisional yang diwariskan lintas generasi. Menariknya, di tengah gempuran produk pabrikan modern, hasil kriya lokal justru tetap punya tempat tersendiri.
Baca juga: Makna Motif Kain Tenun Sulaa dari Buton, Sulawesi Tenggara
Sulawesi Tenggara memiliki beragam produk kerajinan yang tidak hanya unik secara visual, tetapi juga menyimpan nilai budaya mendalam.
Tenun Buton menjadi salah satu kerajinan paling terkenal dari Sulawesi Tenggara. Kain ini berasal dari wilayah Kesultanan Buton, khususnya Kota Baubau dan Kabupaten Buton. Sentra tenun Buton dapat ditemukan di Baubau dan beberapa desa pengrajin di Kabupaten Buton Tengah serta Buton Selatan.
Motif tenun Buton umumnya didominasi warna cerah seperti merah, kuning, hijau, dan emas yang melambangkan keberanian, kemakmuran, serta status sosial. Dahulu, beberapa motif hanya boleh dikenakan kalangan bangsawan Kesultanan Buton.
Saat ini, tenun Buton telah berkembang menjadi berbagai produk modern seperti:
Kabupaten Muna dikenal memiliki kerajinan anyaman berbahan rotan dan daun pandan. Produk ini dibuat secara manual oleh pengrajin lokal dan banyak digunakan sebagai perlengkapan rumah tangga maupun dekorasi interior.
Beberapa produk yang populer antara lain:
Selain ramah lingkungan, anyaman khas Muna juga terkenal kuat dan tahan lama karena menggunakan bahan alami pilihan.
Daerah kepulauan seperti Wakatobi juga memiliki produk kriya berbahan kayu laut dan hasil olahan tangan masyarakat pesisir. Kerajinan tersebut umumnya berbentuk:
Produk-produk ini banyak dijual di kawasan wisata dan pusat oleh-oleh sebagai simbol identitas daerah kepulauan Sultra.
Masyarakat Tolaki dan Buton juga memiliki tradisi membuat aksesori adat berbahan logam kuningan maupun perak. Beberapa di antaranya adalah:
Aksesori ini biasanya digunakan dalam upacara adat, pernikahan, hingga festival budaya daerah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Riset Penulis