Ilustrasi anak-anak bermain. (Freepik/brgfx) (Mufida)
SULTRA - Permainan tradisional merupakan bentuk aktivitas bermain yang diwariskan secara turun-temurun dalam suatu masyarakat, biasanya menggunakan alat sederhana dan sarat nilai budaya. Di tengah dominasi teknologi digital, keberadaan permainan tradisional dari Sulawesi Tenggara menjadi semakin penting untuk dikenalkan kembali, terutama kepada generasi muda yang mulai menjauh dari permainan berbasis interaksi langsung.
Di Sulawesi Tenggara, permainan tradisional tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga menjadi media pembelajaran sosial, melatih kerja sama, serta membentuk karakter anak sejak dini.
Baca juga: Warisan Leluhur! Ini Deretan Senjata Tradisional Khas Sultra yang Penuh Makna
Sebagian besar permainan tradisional di Sulawesi Tenggara lahir dari kehidupan masyarakat agraris dan pesisir. Aktivitas sehari-hari seperti bertani, berkebun, hingga berinteraksi di lingkungan alam turut memengaruhi bentuk permainan yang berkembang.
Permainan ini biasanya dimainkan secara berkelompok, mencerminkan budaya gotong royong yang kuat di masyarakat lokal, terutama pada suku Tolaki, Muna, dan Buton.
Beberapa permainan tradisional yang cukup dikenal di daerah ini antara lain:
Meski dikenal sebagai tarian, Lulo juga berfungsi sebagai permainan interaktif. Pemain akan bergandengan tangan membentuk lingkaran sambil mengikuti irama musik.
Permainan ini berasal dari masyarakat Muna. Layang-layang dibuat dari daun kolope (umbi hutan) dengan rangka bambu.
Mirip dengan engklek pada umumnya, permainan ini menggunakan garis kotak di tanah dan dimainkan dengan satu kaki.
Terbuat dari kayu, gasing dimainkan dengan cara diputar menggunakan tali. Siapa yang paling lama berputar, dialah pemenangnya.
Permainan ini mengandalkan strategi dan kecepatan, dimainkan secara berkelompok dengan sistem menyerang dan bertahan.
Baca juga: Mengenal 6 Alat Musik Tradisional Sulawesi Tenggara
Keunikan permainan tradisional dari Sulawesi Tenggara terletak pada bahan yang digunakan, seperti bambu, kayu, batu dan daun alami serta tanah sebagai arena bermain. Tidak ada teknologi canggih, tidak ada listrik, tapi justru di situlah letak kreativitasnya.
Sebagian besar permainan tradisional memiliki aturan sederhana dan fleksibel. Anak-anak biasanya belajar langsung dari teman sebaya tanpa perlu instruksi formal.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Riset Penulis