Ilustrasi senjata tradisional. (Freepik/freepic.diller) (Mufida)
SULTRA - Berdasarkan perjalanan sejarah manusia, senjata bukan hanya alat untuk bertahan hidup atau berperang, tetapi juga simbol identitas, kekuasaan, dan nilai budaya. Hal ini juga tercermin dalam berbagai senjata tradisional sultra yang diwariskan oleh masyarakat Sulawesi Tenggara dari generasi ke generasi.
Di wilayah yang dihuni beragam suku seperti Tolaki, Buton, dan Muna ini, senjata tradisional tidak sekadar benda tajam. Ia menjadi bagian dari sistem sosial, penanda status, hingga simbol filosofi hidup masyarakatnya. Seiring perkembangan zaman, kini banyak di antaranya bertransformasi menjadi pelengkap busana adat hingga benda koleksi bernilai tinggi.
Baca juga: Mengenal 6 Alat Musik Tradisional Sulawesi Tenggara
Beberapa senjata tradisional yang dikenal luas di Sultra antara lain:
Senjata tradisional Sultra umumnya dibuat dari logam (besi atau baja tempa), kayu pilihan untuk gagang, dan rotan atau bahan alami sebagai pengikat.
Contohnya seperti keris, memiliki bentuk bilah yang bisa lurus atau berlekuk (luk). Lekukan ini bukan dekorasi biasa, tapi bagian dari filosofi dan identitas pemiliknya. Ukiran pada gagang dan sarung (warangka) juga sering dihiasi motif khas daerah, menunjukkan keterampilan tinggi para perajin tradisional.
Kepemilikan senjata tradisional di masa lalu tidak dibuat bebas dan ada aturan. Tidak semua orang bebas membawa senjata tertentu. Ada aturan tidak tertulis yang berkaitan dengan makna dan status sosial.
Kita bisa melihat pada keris. Keris digunakan oleh bangsawan atau tokoh penting, menjadi simbol keberanian dan kehormatan, dan sering dianggap memiliki nilai spiritual. Dalam beberapa budaya lokal, senjata bahkan dipercaya ditempati oleh jiwa atau energi tertentu. Jadi, ini bukan sekadar alat, tapi juga bagian dari identitas pemiliknya.
Baca juga: Makna Filosofis di Balik Keberagaman Pakaian Adat Tradisional Sulawesi Tenggara
Sebelum jadi pajangan atau aksesori, senjata ini punya fungsi yang digunakan untuk aktivitas sehari-hari seperti berburu di hutan, melindungi diri dari ancaman, dan digunakan dalam peperangan antar kelompok, serta bertani. Parang atau talenga, misalnya, lebih fleksibel. Selain untuk bertahan, juga digunakan untuk membuka lahan atau pekerjaan praktis lainnya.
Sekarang, tentu saja tidak ada lagi yang kemana-mana membawa senjata tradisional. Fungsi senjata tradisional Sultra telah bergeser menjadi:
Dalam acara adat atau pernikahan, kehadiran keris tetap menjadi simbol kehormatan dan kelengkapan identitas budaya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Riset Penulis