Ilustrasi penumpang pesawat di bandara. (Freepik) (Mufida)
SULTRA - Ibadah haji menuju Tanah Suci menjadi perjalanan spiritual sekaligus peristiwa sosial yang kuat di tengah masyarakat. Di Indonesia, khususnya di berbagai daerah termasuk Sulawesi Tenggara, tradisi sebelum dan sesudah haji berkembang sebagai bagian dari ekspresi budaya yang mengiringi perjalanan sakral tersebut.
Tradisi ini tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi ruang pertemuan antara nilai-nilai keislaman dan budaya lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Baca juga: Catat! Ini Daftar Larangan Saat Ihram Haji untuk Pria dan Wanita Beserta Dendanya
Sebelum keberangkatan, masyarakat biasanya menggelar acara pelepasan yang dikenal sebagai walimatussafar. Tradisi ini bukan sekadar seremoni, tetapi mengandung doa kolektif agar calon jemaah diberi keselamatan, kesehatan, dan kemudahan selama menjalankan ibadah.
Momen ini juga menjadi simbol dukungan keluarga dan lingkungan sekitar terhadap seseorang yang akan menunaikan rukun Islam kelima.
Acara walimatussafar umumnya diisi dengan pembacaan doa, tausiyah, serta permohonan maaf dari calon jemaah kepada keluarga dan tetangga. Praktik ini mencerminkan nilai kerendahan hati sekaligus kesadaran bahwa perjalanan haji bukan hanya fisik, tetapi juga spiritual.
Di beberapa daerah, prosesi ini juga diiringi dengan tradisi khas seperti pengajian bersama atau pembacaan dzikir tertentu yang diyakini membawa keberkahan.
Baca juga: Pemerintah Tetapkan Biaya Haji 2026, Embarkasi Tampilkan Variasi Besaran Bipih
Tidak lengkap rasanya tradisi tanpa kehadiran makanan. Dalam acara pelepasan maupun penyambutan, masyarakat biasanya menyajikan hidangan khas sebagai bentuk syukur dan kebersamaan.
Menu yang dihidangkan cenderung berupa makanan tradisional lokal yang mudah dibagikan kepada tamu, mencerminkan nilai berbagi rezeki yang menjadi bagian penting dalam budaya masyarakat.
Setelah menunaikan ibadah haji, kepulangan jemaah disambut dengan antusias oleh keluarga dan masyarakat. Tradisi penyambutan ini sering kali lebih meriah dibandingkan pelepasan.
Jemaah yang pulang biasanya mengadakan syukuran sebagai ungkapan rasa terima kasih atas kelancaran ibadah yang telah dijalani. Selain itu, momen ini juga identik dengan pembagian oleh-oleh khas Tanah Suci, seperti kurma, air zamzam, atau sajadah.
Tradisi sebelum dan sesudah haji mencerminkan bentuk akulturasi yang harmonis antara ajaran Islam dan budaya lokal. Selama tidak bertentangan dengan syariat, praktik ini menjadi bagian dari identitas sosial masyarakat.
Fenomena ini juga menunjukkan bahwa agama tidak selalu hadir dalam bentuk yang kaku, tetapi mampu beradaptasi dengan budaya setempat tanpa kehilangan esensinya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Riset Penulis