Simak tata cara berhaji sesuai sunnah. (Freepik) (Mufida)
SULTRA - Tata cara haji menjadi hal mendasar agar setiap rangkaian ibadah tidak sekadar dilakukan, tetapi benar-benar dimaknai sesuai tuntunan. Di Indonesia, mayoritas jemaah menjalankan haji dengan metode tertentu yang dianggap lebih praktis. Namun, tanpa pemahaman alur yang jelas, tidak sedikit jemaah yang justru kebingungan di tengah pelaksanaan.
Jika melihat praktik di lapangan, sebagian besar jemaah Indonesia menjalankan haji Tamattu’. Jenis ini memungkinkan jemaah untuk melaksanakan umrah terlebih dahulu, kemudian bertahallul (melepas ihram), sebelum melanjutkan ibadah haji pada waktu yang telah ditentukan.
Keunggulan haji Tamattu’ terletak pada fleksibilitasnya. Jemaah memiliki jeda waktu untuk beristirahat setelah umrah sebelum memasuki rangkaian puncak haji. Meski demikian, jemaah diwajibkan membayar dam (denda berupa penyembelihan hewan) sebagai konsekuensi dari jenis haji ini.
Baca juga: Kapan Lebaran Haji 2026? Ini Jadwal Lengkap Idul Adha dan Cuti Bersamanya
Rangkaian tata cara haji dimulai dari niat ihram di miqat, yaitu batas wilayah yang telah ditentukan. Di sinilah jemaah mengenakan pakaian ihram dan melafalkan niat haji atau umrah.
Beberapa hal penting saat ihram:
Menggunakan pakaian ihram (dua lembar kain putih bagi pria)
Menjaga larangan ihram, seperti tidak memotong kuku, tidak memakai wewangian, dan tidak berburu
Memperbanyak talbiyah sebagai bentuk panggilan kepada Allah
Tahap Ihram menandai perubahan status seorang jemaah menjadi “tamu Allah” yang harus menjaga kesucian lahir dan batin.
Puncak dari seluruh rangkaian haji adalah wukuf di Arafah yang dilaksanakan pada 9 Dzulhijjah. Pada momen ini, jemaah berhenti sejenak dari aktivitas fisik dan fokus pada doa, dzikir, serta refleksi diri. Tidak ada ritual yang rumit, tetapi justru di sinilah esensi haji terasa paling dalam.
Wukuf dimulai sejak tergelincir matahari hingga terbenam. Jemaah dianjurkan untuk:
Setelah Arafah, jemaah bergerak ke Muzdalifah untuk mabit atau bermalam. Di sini, jemaah juga mengumpulkan batu kerikil yang akan digunakan untuk lempar jumrah.
Baca juga: Info Resmi Jadwal Keberangkatan dan Kepulangan Jemaah Haji Sultra 2026
Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Mina, tempat jemaah kembali bermalam selama beberapa hari. Aktivitas mabit ini sering dianggap sekadar teknis, padahal mengandung nilai kesabaran dan kebersamaan yang tinggi.
Fasilitas yang terbatas dan jumlah jemaah yang sangat besar membuat tahap ini menjadi ujian tersendiri. Jadi, bukan hanya ibadah spiritual, tapi juga latihan mental.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Riset Penulis