Papan nama jalan di Baubau beserta aksara Hangeulnya. (Dokumentasi penulis) (Mufida)
SULTRA - Di Kelurahan Bugi, Kecamatan Sorawolio, Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, sebuah kampung kecil kini dikenal sebagai “Kampung Korea”. Namun, nuansa Korea yang dihadirkan bukan sekadar gaya hidup drama melainkan wujud nyata adaptasi budaya dan bahasa yang berakar dalam identitas lokal. Pada akhirnya, Kampung Korea ini menutup kisah lama kawasan yang semula kumuh dan membuka bab baru sebagai daya tarik wisata kreatif.
Uniknya, kampung ini memajang banyak mural, nama jalan atau halte publik yang ditulis dalam aksara Hangeul, huruf asli Korea Selatan, yang digunakan oleh masyarakat suku Cia‑Cia.
Baca juga: Bunga Tabebuya Putih Mekar, Benteng Wolio Semakin Instagramable!
Wilayah yang kini disebut Kampung Korea dulu dikenal sebagai Desa Bugi atau Kampung Bugi Malengo, sebuah kawasan pemukiman tradisional suku Cia-Cia. Seiring waktu, kawasan ini mengalami perubahan besar. Salah satu tokoh pemuda setempat menyebut bahwa awalnya tempat tersebut mengalami kondisi kumuh dan kemudian berinisiatif mempercantik lingkungan dengan tema Korea.
Pada tahun 2009, sebuah simposium internasional memunculkan ide pengembangan aksara Hangeul untuk Bahasa Cia-Cia yang dianggap tidak memiliki sistem penulisan penuh. Kajian menunjukkan bahwa bunyi-bunyi dalam bahasa Cia-Cia memiliki kemiripan fonetik dengan Hangeul. Pemerintah Kota Baubau kemudian turut mendorong penggunaan huruf Korea dalam konteks sekolah dan papan nama jalan.
Baca juga: Desa Wisata Namu Wakili Sultra di Ajang Wonderful Indonesia Award 2025
Wisatawan yang datang ke Kampung Korea Baubau akan merasakan suasana seperti berada di sudut kota Korea berkat mural warna-warni, penulisan Hangeul, dan hanbok (busana tradisional Korea) yang dapat disewa untuk berswafoto.
Papan nama sekolah di Baubau. (Dokumentasi penulis) (Mufida)
Adaptasi Hangeul oleh suku Cia-Cia merupakan bagian penting dari pelestarian bahasa dan budaya lokal yang rentan punah. Bahasa Cia-Cia sebelumnya hanya lisan dan tidak memiliki sistem tulisan yang memadai. Adopsi Hangeul dianggap cocok karena struktur fonetiknya.
Namun demikian, langkah ini menghadapi tantangan seperti ketersediaan guru yang fasih Hangeul, pelestarian identitas asli, serta bagaimana menjadikan kampung ini tetap otentik dan bukan hanya “tematik” wisata semata.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Dan Pengalaman Langsung