SULTRA - Jalan yang berlubang, becek saat hujan, dan berdebu di musim panas mungkin tampak seperti masalah kecil. Namun di balik setiap genangan di aspal itu, tersimpan cerita besar tentang bagaimana ekonomi lokal bisa tersendat. Infrastruktur jalan merupakan urat nadi distribusi ekonomi, dan ketika jalur transportasi terputus, roda perputaran barang dan jasa ikut melambat.
Berikut lima dampak nyata dari jalan rusak terhadap distribusi ekonomi daerah, khususnya di wilayah dengan aktivitas perdagangan tinggi seperti di Indonesia bagian timur.
1. Biaya Logistik Melonjak Drastis
Kerusakan jalan membuat kendaraan pengangkut barang harus melambat, memilih jalur alternatif, atau bahkan memperbaiki kendaraan lebih sering. Kondisi ini otomatis menaikkan biaya bahan bakar dan perawatan. Data dari Kementerian PUPR menunjukkan bahwa infrastruktur jalan yang tidak layak dapat meningkatkan biaya logistik hingga 20 persen lebih tinggi dibanding daerah dengan kondisi jalan baik.
Dampaknya pun meluas hingga ke harga bahan pokok melonjak di tingkat konsumen, sementara margin keuntungan petani dan pedagang kecil kian menipis.
Baca juga: Jalan Kedondong di Anduonohu Akhirnya Mulai Diaspal
2. Akses Produk Pertanian dan Perikanan Terhambat
Di banyak daerah, terutama sentra produksi di pedalaman Sulawesi Tenggara dan Nusa Tenggara, hasil panen dan tangkapan ikan sangat bergantung pada akses jalan darat. Jalan rusak membuat pengangkutan ke pasar utama tertunda, sehingga produk cepat rusak dan nilainya menurun.
3. Investasi Daerah Mengendur
Investor, terutama dari sektor logistik dan manufaktur, menjadikan kondisi jalan sebagai indikator penting sebelum menanam modal. Infrastruktur yang buruk menciptakan ketidakpastian distribusi bahan baku dan hasil produksi. Dalam laporan World Bank (2023), disebutkan bahwa investasi bisa berkurang hingga 15 persen di wilayah dengan akses jalan rusak berat. Tanpa kehadiran investor baru, peluang kerja menyempit dan potensi pertumbuhan ekonomi daerah menurun.
4. Mobilitas Warga dan Pelayanan Publik Terhambat
Bukan hanya ekonomi perdagangan yang terganggu, jalan rusak juga berdampak pada mobilitas sosial masyarakat. Akses menuju sekolah, rumah sakit, dan pusat administrasi menjadi sulit, terutama saat musim hujan. Akibatnya, biaya transportasi meningkat, waktu produktif berkurang, dan kualitas hidup masyarakat menurun.
Baca juga: 2.068 Kecelakaan di Sultra Sepanjang 2025, Penyebab Utama karena Jalan Rusak & Helm Tidak Prima
Kondisi ini paling terasa di daerah seperti Konawe dan Kolaka Timur, di mana ruas jalan penghubung antardesa sering rusak akibat curah hujan tinggi dan beban kendaraan tambang.
5. Penurunan Daya Saing Daerah
Ketika transportasi lambat dan biaya logistik meningkat, daerah kehilangan daya saing. Produk lokal sulit bersaing dengan komoditas dari wilayah lain yang memiliki infrastruktur lebih baik. Ini menyebabkan ketimpangan ekonomi antarwilayah semakin lebar.
Ekonom transportasi Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menilai bahwa pembangunan ekonomi tidak akan berkelanjutan tanpa perbaikan infrastruktur dasar, termasuk jalan. Menurutnya, konektivitas adalah syarat mutlak agar ekonomi daerah tidak hanya tumbuh, tapi juga merata.
Oleh karena itu, jalan bukan hanya sebagai penghubung tapi juga penyambung roda ekonomi agar terus berjalan lancar dan bisa meningkatkan pemasukan daerah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Riset Penulis