SULTRA - Keindahan alam berbatu dan kawasan karst membuat Sulawesi Tenggara sebenarnya memiliki potensi besar untuk olahraga ekstrem dan wisata petualangan seperti panjat tebing. Namun hingga kini, panjat tebing belum berkembang menjadi ikon wisata utama seperti diving atau snorkeling yang lebih dulu mendunia lewat Wakatobi.
Sebagian besar lokasi panjat tebing di Sultra masih dimanfaatkan komunitas pecinta alam secara terbatas, baik untuk latihan maupun eksplorasi alam terbuka. Infrastruktur dan pengelolaan khusus untuk olahraga climbing juga masih tergolong minim dibanding daerah lain di Indonesia yang sudah memiliki destinasi tebing populer.
Baca juga: Rekomendasi Spot Snorkeling Paling Indah di Sulawesi Tenggara untuk Pemula
Rekomendasi Tempat Latihan Wall Climbing dan Panjat Tebing di Sulawesi Tenggara
Arena Wall Climbing KONI Kendari: Pusat Latihan Atlet dan Pemula
Di Kota Kendari, salah satu lokasi yang cukup dikenal adalah arena wall climbing milik KONI Sulawesi Tenggara. Tempat ini biasanya digunakan untuk latihan atlet Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI), pembinaan pemula, dan simulasi speed climbing dan lead climbing. Karena berbentuk fasilitas buatan, lokasi ini relatif aman bagi pemula yang baru mencoba olahraga panjat tebing.
Tebing Sorawolio Baubau: Karst Alam yang Mulai Dilirik Komunitas Climbing
Kawasan Sorawolio menjadi salah satu spot alam yang mulai dikenal di kalangan komunitas outdoor lokal. Meski belum memiliki pengelolaan resmi sebagai destinasi panjat tebing, beberapa komunitas mahasiswa dan pencinta alam sudah cukup sering menggunakan kawasan ini untuk latihan.
Area ini memiliki:
- Tebing batu kapur alami
- Kontur karst yang cukup menantang
- Jalur alami untuk latihan climbing tradisional
Tebing Karst Pulau Hoga Wakatobi: Potensi Besar yang Belum Dikembangkan
Di kawasan Pulau Hoga sebenarnya terdapat beberapa titik batu karst dan tebing pesisir yang potensial untuk aktivitas climbing ringan dan eksplorasi outdoor. Lokasinya berada di sekitar:
- Area pesisir berbatu Pulau Hoga
- Jalur trekking dekat pantai karang
- Tebing kecil di kawasan konservasi laut Wakatobi
Namun hingga saat ini, spot tersebut belum dikembangkan secara resmi sebagai area panjat tebing wisata. Aktivitas outdoor di Wakatobi masih lebih didominasi diving dan snorkeling. Tidak mengherankan, karena lautnya memang terlalu indah untuk dikalahkan tebing batu yang diam saja di pinggir pantai.
Baca juga: Ada Spot Lari Baru di Kendari, Simak Informasi Lokasi dan Jadwal Bukanya!
Labengki dan Sombori: Tebing Eksotis untuk Eksplorasi Alam
Kawasan Pulau Labengki dan gugusan karst Sombori di perbatasan Sultra juga memiliki formasi batu tinggi yang potensial untuk kegiatan climbing dan rappelling. Beberapa komunitas outdoor memanfaatkan area ini untuk rock climbing ringan, high rope activity, dan dokumentasi fotografi alam ekstrem.
Sayangnya, belum ada fasilitas keselamatan permanen maupun jalur resmi yang dikelola profesional.
Panjat Tebing Belum Jadi Wisata Utama di Sultra
Berbeda dengan Bali, Yogyakarta, atau Jawa Barat yang memiliki destinasi climbing terkenal, Sulawesi Tenggara masih belum menjadikan panjat tebing sebagai sektor wisata unggulan. Sulawesi Tenggara masih fokus pada wisata bahari. Selain itu, panjat tebing merupakan kegiatan ekstrem sehingga butuh ketersediaan fasilitas climbing profesional.
Padahal, secara geografis, Sultra memiliki banyak kawasan karst dan batuan alam yang potensial dikembangkan sebagai destinasi adventure tourism.
Info Sewa Alat dan Latihan untuk Pemula
Untuk pemula, latihan biasanya dilakukan melalui komunitas atau FPTI daerah.
Estimasi biaya:
- Sewa harness dan alat dasar: Rp20 ribu - Rp50 ribu
- Sepatu climbing: Rp20 ribu - Rp40 ribu
- Latihan komunitas: beberapa gratis, tergantung agenda
Karena belum banyak tempat komersial khusus climbing, sebagian besar aktivitas masih berbasis komunitas.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Riset Penulis