SULTRA - Beberapa daerah di Sulawesi Tenggara memiliki tradisi unik saat menyambut bulan suci Ramadhan. Di balik rutinitas umum seperti bersih-bersih masjid atau ziarah kubur, sejumlah daerah masih menjaga tradisi lokal yang khas dan jarang dikenal secara luas. Tradisi ini tumbuh dari pertemuan nilai Islam dan budaya setempat, membentuk cara unik masyarakat menyambut bulan suci.
Beberapa di antaranya bahkan hanya dilakukan di komunitas tertentu dan tidak lagi dijalankan secara masif, membuatnya semakin menarik untuk ditelusuri.
Baca juga: Mau Liburan ke Wakatobi? Catat Waktu Terbaiknya!
Pawai Obor Ramadan di Wakatobi
Di beberapa wilayah Wakatobi, masyarakat mengawali Ramadan dengan pawai obor pada malam-malam awal puasa. Anak-anak hingga orang dewasa berjalan beriringan sambil membawa obor, disertai lantunan shalawat atau doa.
Pawai ini menjadi simbol penerangan batin dan penanda masuknya bulan suci. Meski sederhana, tradisi ini memiliki makna spiritual yang kuat dan kini hanya bertahan di desa-desa tertentu.
Haroa Menjelang Ramadan di Muna
Kabupaten Muna memiliki tradisi Haroa yang juga dilakukan menjelang Ramadan. Kegiatan ini berupa doa bersama yang biasanya berlangsung di rumah atau masjid, disertai makan bersama menggunakan hidangan tradisional.
Haroa menjelang Ramadan dimaknai sebagai bentuk permohonan keselamatan, kesehatan, dan kelancaran ibadah puasa. Fokusnya bukan perayaan, melainkan persiapan batin secara kolektif.
Doa Kampung di Wilayah Buton
Di sejumlah wilayah Buton, masyarakat masih menjalankan doa kampung sebelum Ramadan. Tradisi ini melibatkan tokoh adat dan agama, serta dilakukan di masjid tua atau lokasi yang memiliki nilai sejarah.
Doa kampung menjadi sarana refleksi bersama, memperkuat ikatan sosial, sekaligus menegaskan peran adat dan agama yang berjalan beriringan dalam kehidupan masyarakat.
Ziarah Leluhur di Buton Tengah dan Selatan
Berbeda dengan ziarah kubur secara individual, beberapa komunitas di Buton Tengah dan Buton Selatan melakukan ziarah leluhur secara kolektif menjelang Ramadan. Warga satu kampung mendatangi makam leluhur yang sama, dipimpin tokoh masyarakat.
Makna utamanya adalah pengingat akan asal-usul keluarga dan refleksi diri sebelum memasuki bulan puasa, bukan ritual mistik sebagaimana sering disalahpahami.
Pembersihan Masjid Adat di Konawe
Di wilayah tertentu Konawe dan Konawe Selatan, masyarakat membersihkan masjid adat atau masjid lama menjelang Ramadan. Kegiatan ini dilakukan secara gotong royong dan ditutup dengan doa bersama.
Masjid lama dianggap sebagai pusat awal penyebaran Islam di wilayah tersebut, sehingga pembersihan tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga simbol kesiapan spiritual menyambut Ramadan.
Makan Bersama Pra-Ramadan di Kolaka
Di beberapa desa di Kolaka dan Kolaka Timur, warga menggelar makan bersama sebelum Ramadan. Setiap keluarga membawa makanan, lalu disantap bersama di masjid atau balai desa.
Tradisi ini sering dimaknai sebagai ajang memperbaiki hubungan sosial. Jika terdapat konflik antarwarga, biasanya diselesaikan terlebih dahulu sebelum kegiatan berlangsung.
Tradisi menyambut Ramadan di Sulawesi Tenggara menunjukkan bahwa praktik keagamaan tidak berdiri sendiri, melainkan berakar kuat pada budaya lokal. Meski sebagian mulai jarang dilakukan, tradisi-tradisi ini tetap menjadi penanda identitas dan cara masyarakat memaknai Ramadan secara kolektif.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Riset Penulis