SULTRA - Di tengah derasnya arus teknologi dan gawai yang makin akrab di tangan anak-anak, minat baca sering kali tertinggal jauh di belakang. Padahal, kebiasaan membaca sejak dini menjadi fondasi penting bagi tumbuhnya rasa ingin tahu, kemampuan berpikir kritis, dan empati pada anak.
Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia masih rendah, dengan rasio 1 banding 1.000 artinya, dari setiap 1.000 orang, hanya satu yang gemar membaca. Kondisi ini mencerminkan tantangan besar bagi keluarga dan lembaga pendidikan dalam menanamkan budaya literasi.
Namun, menumbuhkan minat baca anak bukan hal mustahil. Psikolog pendidikan dan pakar literasi menyebut bahwa kunci utamanya adalah menciptakan suasana membaca yang menyenangkan, bukan memaksakan.
Baca juga: Taman Baca Sangia Yi Gola Bawa Nama Sultra ke Panggung Literasi Nasional
1. Jadikan Membaca Sebagai Aktivitas Emosional
Anak belajar dari contoh, bukan perintah. Karena itu, orang tua perlu menjadi “role model membaca” di rumah. Momen membaca juga bisa dijadikan aktivitas emosional misalnya membaca dongeng bersama menjelang tidur. Anak bukan hanya menikmati cerita, tetapi juga merasakan kehangatan interaksi dengan orang tuanya.
2. Biarkan Anak Memilih Buku Sendiri
Alih-alih menentukan bacaan yang dianggap baik oleh orang tua, biarkan anak memilih buku sesuai minatnya. Kebebasan ini membuat anak merasa dihargai dan meningkatkan rasa ingin tahu alami mereka. Setelahnya, orang tua dapat mendampingi dengan diskusi ringan tentang isi buku, tanpa mengoreksi atau menghakimi.
3. Ciptakan Sudut Baca yang Menyenangkan
Tak perlu ruang besar, cukup sudut baca kecil yang nyaman dan penuh warna di rumah. Letakkan buku-buku anak di rak rendah agar mudah dijangkau. Menurut Komunitas Literasi Anak Indonesia, visual dan aksesibilitas sangat berpengaruh terhadap kebiasaan membaca. Anak akan lebih tertarik pada buku yang bisa ia ambil sendiri, bukan yang disimpan jauh dari jangkauan.
4. Kurangi Ketergantungan Gawai Secara Bertahap
Gadget sering kali menjadi pesaing utama buku. Namun, bukan berarti anak harus dilarang sepenuhnya. Kuncinya ada pada pengaturan waktu dan pengalihan yang kreatif. Misalnya, saat waktu layar berakhir, ajak anak membaca buku dengan tema yang sama dengan film atau game kesukaannya. Dengan begitu, buku tidak lagi terasa membosankan, tetapi menjadi “lanjutan cerita” dari hal yang sudah ia sukai.
Baca juga: Cari Teman Membaca? Gabungmi ke Komunitas Baubau Membaca!
5. Gunakan Cerita Lokal untuk Bangun Identitas
Buku-buku dengan nuansa budaya lokal juga penting untuk memperkuat identitas anak. Cerita rakyat seperti La Ndale dari Sulawesi atau Malin Kundang dari Sumatera dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal nilai-nilai kearifan lokal sambil melatih kemampuan berbahasa. Selain itu, buku lokal membantu anak melihat dirinya sendiri dalam cerita, sesuatu yang sering hilang jika hanya membaca buku terjemahan luar negeri.
Menumbuhkan minat baca anak tidak bisa instan. Butuh waktu, kesabaran, dan konsistensi. Namun, hasilnya sepadan, anak yang terbiasa membaca memiliki daya imajinasi luas, kemampuan berpikir kritis lebih tinggi, dan empati sosial yang kuat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Riset Penulis