Senin, 27 OKTOBER 2025 • 22:40 WIB

Apakah Kain Tradisional Indonesia Siap Mengekspor Ke Pasar Modest Fashion Global?

Author

Ilustrasi wanita mengenakan pakaian batik. (Freepik) (Mufida)

SULTRA - Kesempatan untuk kain tradisional seperti tenun, songket, dan batik menembus pangsa pasar modest fashion dunia kini semakin terbuka lebar. Dari data Bank Indonesia (BI), ekspor produk modest fashion Indonesia hingga Juli 2024 telah mencapai US$ 632,76 juta. Meski angka ini menunjukkan pertumbuhan, masih ada ruang besar untuk pengembangan, terutama melalui pemanfaatan kain tradisional sebagai bahan baku unggulan.

Permintaan dunia terhadap busana “sopan” (modest wear) terus meningkat, terutama di negara-negara dengan populasi Muslim besar dan di kalangan konsumen yang mencari gaya hidup etis dan berkelanjutan. Produk kain tradisional Indonesia memiliki keunikan estetika dan nilai budaya yang bisa menjadi daya tarik utama di pasar global apabila dikemas dengan standar dan desain yang sesuai tren. 

Pemerintah telah mendorong ekspor modest fashion sebagai bagian dari strategi ekspor non-migas. Menurut data, kontribusi modest fashion terhadap ekspor non-migas Indonesia mencapai 3,5 % pada 2022 dan industri ini mencatat tren pertumbuhan positif. Walaupun peluang besar, kain tradisional menghadapi beberapa hambatan sebelum benar-benar go international.

Baca juga: Mengapa 2 Oktober Ditetapkan sebagai Hari Batik Nasional?

Hambatan pertama adalah daya saing produksi harus diperhatikan. Standar kualitas, ukuran, finishing, dan brand awareness produk kain tradisional perlu ditingkatkan agar bisa diterima pasar internasional yang menuntut konsistensi dan standar tinggi.

Desain dan adaptasi tren pun harus sesuai perkembangan zaman. Gaya busana modest global memiliki preferensi tersendiri yakni desain yang simpel, warna netral, kualitas bahan dan potongan yang modern. Kain tradisional perlu diolah agar tetap autentik namun relevan dengan tren tersebut. 

Pemasaran dan akses pasar juga menjadi poin utama. Meski digitalisasi membantu, banyak UMKM kain tradisional masih terbatas akses ke jaringan ekspor dan mengetahui aturan seperti sertifikasi, logistik, dan regulasi ekspor. Untuk memanfaatkan peluang ini secara optimal, berikut strategi yang bisa dilakukan para pelaku kain tradisional:

Baca juga: Makna Motif Kain Tenun Sulaa dari Buton, Sulawesi Tenggara

  1. Kolaborasi desain dan brand modern: Gabungkan motif tradisional dengan potongan dan branding yang cocok untuk pasar modest global.
  2. Meningkatkan kualitas dan standar ekspor: Pastikan bahan, jahitan, finishing serta sertifikasi seperti halal atau standar tekstil terpenuhi.
  3. Memanfaatkan platform digital & e-commerce ekspor: Platform daring dapat membuka pasar ke luar negeri dengan biaya relatif rendah.
  4. Mengikuti event dan pameran internasional: Misalnya, gelaran modest fashion di Paris atau Dubai membukakan akses pasar dan buyer global.
  5. Memanfaatkan dukungan pemerintah: Program fasilitasi ekspor, diplomasi dagang, dan pelatihan ekspor bisa dimanfaatkan pelaku industri up-wastra.
     

Kain tradisional Indonesia bukan hanya warisan budaya yang memikat. Melalui strategi yang tepat, kita bisa menjadikan kain tradisional Indonesia sebagai komoditas ekspor yang bernilai tinggi di pasar modest fashion dunia.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Kemendag

Author

Mufida

Editor
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU