Ilustrasi orang panjat tebing. (Freepik/wirestock) (Mufida)
SULTRA - Keindahan alam berbatu dan kawasan karst membuat Sulawesi Tenggara sebenarnya memiliki potensi besar untuk olahraga ekstrem dan wisata petualangan seperti panjat tebing. Namun hingga kini, panjat tebing belum berkembang menjadi ikon wisata utama seperti diving atau snorkeling yang lebih dulu mendunia lewat Wakatobi.
Sebagian besar lokasi panjat tebing di Sultra masih dimanfaatkan komunitas pecinta alam secara terbatas, baik untuk latihan maupun eksplorasi alam terbuka. Infrastruktur dan pengelolaan khusus untuk olahraga climbing juga masih tergolong minim dibanding daerah lain di Indonesia yang sudah memiliki destinasi tebing populer.
Baca juga: Rekomendasi Spot Snorkeling Paling Indah di Sulawesi Tenggara untuk Pemula
Di Kota Kendari, salah satu lokasi yang cukup dikenal adalah arena wall climbing milik KONI Sulawesi Tenggara. Tempat ini biasanya digunakan untuk latihan atlet Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI), pembinaan pemula, dan simulasi speed climbing dan lead climbing. Karena berbentuk fasilitas buatan, lokasi ini relatif aman bagi pemula yang baru mencoba olahraga panjat tebing.
Kawasan Sorawolio menjadi salah satu spot alam yang mulai dikenal di kalangan komunitas outdoor lokal. Meski belum memiliki pengelolaan resmi sebagai destinasi panjat tebing, beberapa komunitas mahasiswa dan pencinta alam sudah cukup sering menggunakan kawasan ini untuk latihan.
Area ini memiliki:
Di kawasan Pulau Hoga sebenarnya terdapat beberapa titik batu karst dan tebing pesisir yang potensial untuk aktivitas climbing ringan dan eksplorasi outdoor. Lokasinya berada di sekitar:
Namun hingga saat ini, spot tersebut belum dikembangkan secara resmi sebagai area panjat tebing wisata. Aktivitas outdoor di Wakatobi masih lebih didominasi diving dan snorkeling. Tidak mengherankan, karena lautnya memang terlalu indah untuk dikalahkan tebing batu yang diam saja di pinggir pantai.
Baca juga: Ada Spot Lari Baru di Kendari, Simak Informasi Lokasi dan Jadwal Bukanya!
Kawasan Pulau Labengki dan gugusan karst Sombori di perbatasan Sultra juga memiliki formasi batu tinggi yang potensial untuk kegiatan climbing dan rappelling. Beberapa komunitas outdoor memanfaatkan area ini untuk rock climbing ringan, high rope activity, dan dokumentasi fotografi alam ekstrem.
Sayangnya, belum ada fasilitas keselamatan permanen maupun jalur resmi yang dikelola profesional.
Berbeda dengan Bali, Yogyakarta, atau Jawa Barat yang memiliki destinasi climbing terkenal, Sulawesi Tenggara masih belum menjadikan panjat tebing sebagai sektor wisata unggulan. Sulawesi Tenggara masih fokus pada wisata bahari. Selain itu, panjat tebing merupakan kegiatan ekstrem sehingga butuh ketersediaan fasilitas climbing profesional.
Padahal, secara geografis, Sultra memiliki banyak kawasan karst dan batuan alam yang potensial dikembangkan sebagai destinasi adventure tourism.
Untuk pemula, latihan biasanya dilakukan melalui komunitas atau FPTI daerah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Riset Penulis