Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Selasa, 17 MARET 2026 • 15:10 WIB

Dalil Bermaaf-Maafan di Idul Fitri dalam Islam

Dalil Bermaaf-Maafan di Idul Fitri dalam IslamIlustrasi halal bihalal lebaran idul fitri. (Freepik) (Mufida)

SULTRA - Idul Fitri sering dimaknai sebagai momen kembali ke fitrah, yang diiringi dengan tradisi saling memaafkan. Namun, penting untuk memahami bahwa bermaaf-maafan bukan sekadar budaya tahunan. Dalam Islam, memaafkan adalah ajaran yang berlaku sepanjang waktu. Artikel ini membahas hukum, dalil, serta konteks budaya dari praktik bermaaf-maafan saat Idul Fitri.

1. Apakah Bermaaf-Maafan di Idul Fitri Wajib dalam Islam?

Bermaaf-maafan memang sangat dianjurkan, tetapi tidak diwajibkan secara khusus pada hari raya. Dalam Islam, meminta maaf dan memaafkan termasuk dalam akhlak mulia yang berlaku kapan saja, bukan hanya saat Idul Fitri. Namun, karena Idul Fitri dianggap sebagai momentum spiritual setelah Ramadan, tradisi ini menjadi lebih kuat dan terasa relevan.

Jadi, tidak berdosa jika tidak melakukannya tepat di hari Lebaran. Yang jadi masalah justru kalau menunda memaafkan tanpa alasan yang jelas, apalagi sampai memutus hubungan.

2. Dalil Al-Qur’an tentang Perintah Memaafkan

Al-Qur’an secara tegas mendorong umat Islam untuk memaafkan. Salah satu dalil yang sering dijadikan rujukan adalah:

QS. An-Nur ayat 22:
“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?”

Ayat ini menunjukkan hubungan langsung antara memaafkan orang lain dan harapan untuk mendapatkan ampunan dari Allah. Konsepnya sederhana, tapi sering diabaikan.

Selain itu, dalam QS. Ali Imran ayat 134, disebutkan bahwa orang bertakwa adalah mereka yang mampu menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain.

Baca juga: 8 atau 20 Rakaat? Ini Niat dan Tata Cara Sholat Tarawih

3. Hadis Nabi tentang Keutamaan Saling Memaafkan

Dalam hadis, Rasulullah SAW juga menekankan pentingnya menjaga hubungan baik antar sesama. Salah satu hadis riwayat Bukhari dan Muslim menyebutkan bahwa tidak halal bagi seorang Muslim untuk mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari. Ini menunjukkan bahwa konflik tidak boleh dibiarkan berlarut-larut.

Ada juga hadis yang menjelaskan bahwa Allah akan mengampuni hamba-Nya yang mau memaafkan orang lain. Artinya, memaafkan bukan hanya soal hubungan sosial, tetapi juga berdampak pada hubungan spiritual.

4. Tradisi Halal Bihalal: Antara Syariat dan Budaya

Halal bihalal sering dianggap bagian dari ajaran agama, padahal sebenarnya ini adalah tradisi khas Indonesia.

Secara istilah, halal bihalal tidak ditemukan secara spesifik dalam Al-Qur’an maupun hadis. Namun, esensinya sejalan dengan ajaran Islam, yaitu mempererat silaturahmi dan saling memaafkan.

Tradisi ini biasanya dilakukan setelah Idul Fitri, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, maupun instansi. Dalam praktiknya, halal bihalal menjadi ruang sosial untuk memperbaiki hubungan yang mungkin renggang. Jadi, meskipun bukan bagian dari syariat secara langsung, halal bihalal tetap bernilai positif karena sejalan dengan prinsip Islam.

5. Hikmah Bermaaf-Maafan di Hari Raya Idul Fitri

Bermaaf-maafan bukan sekadar formalitas atau tradisi basa-basi. Ada beberapa hikmah yang bisa dipahami. Pertama, membersihkan hati dari rasa dendam atau kebencian. Kedua, memperbaiki hubungan sosial yang mungkin sempat terganggu. Ketiga, menciptakan suasana kebersamaan yang lebih harmonis.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Hadits

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Dalil Bermaaf-Maafan di Idul Fitri dalam Islam

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!