Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Jumat, 27 FEBRUARI 2026 • 17:09 WIB

Cara Masyarakat Sultra Merayakan Lebaran, Dari Makan Bersama Hingga Masiara

Cara Masyarakat Sultra Merayakan Lebaran, Dari Makan Bersama Hingga MasiaraIlustrasi kue kering lebaran. (Freepik/azerbaijan_stocker) (Mufida)

SULTRA - Lebaran di Sulawesi Tenggara selalu punya warna sendiri. Setiap daerah menyimpan tradisi unik masyarakat Sultra saat Lebaran yang tidak sekadar soal salat Id dan hidangan ketupat. Ada nilai kebersamaan, penghormatan kepada leluhur, hingga budaya silaturahmi lintas generasi yang terus bertahan hingga 2026. Dari Kota Kendari sampai kepulauan Wakatobi, momen Idulfitri bukan hanya perayaan agama, tetapi juga peristiwa budaya yang mempertemukan identitas lokal dan semangat persaudaraan.

Tradisi Menjelang Lebaran di Sultra

Di berbagai daerah di Sultra, masyarakat biasanya melakukan ziarah kubur beberapa hari sebelum Idulfitri. Tradisi ini menjadi cara menghormati keluarga yang telah wafat sekaligus membersihkan makam. Di wilayah Buton dan Baubau, ziarah sering dilakukan secara berkelompok oleh keluarga besar.

Selain itu, kegiatan membersihkan rumah dan lingkungan dilakukan bersama-sama. Di desa-desa wilayah Konawe dan Konsel, budaya gotong royong masih terlihat menjelang Lebaran, termasuk memperbaiki fasilitas umum dan masjid.

Tradisi Masiara (Anak-Anak Keliling Rumah)

Di Kota Kendari, terdapat tradisi yang dikenal sebagai Masiara. Tradisi ini merupakan kegiatan saling berkunjung antar keluarga dan tetangga pada hari pertama dan kedua Lebaran. Tidak hanya orang dewasa, anak-anak juga ikut ambil bagian dengan berkeliling dari satu rumah ke rumah lainnya untuk bersilaturahmi.

Anak-anak biasanya datang berkelompok, bersalaman dengan tuan rumah, lalu menerima hidangan atau uang Lebaran. Aktivitas ini memperkuat hubungan sosial dan mengajarkan nilai sopan santun sejak dini. Hingga 2026, tradisi ini masih bertahan meski gaya hidup masyarakat semakin modern. Anak-anak biasanya akan berdiri di depan rumah tetangga sambil berteriak, "Tante, masiara!"

Tradisi Lebaran di Wakatobi

Di Kabupaten Wakatobi, suasana Lebaran terasa kental dengan nuansa adat maritim. Setelah salat Id, masyarakat biasanya menggelar makan bersama keluarga besar dengan sajian khas laut seperti ikan bakar dan olahan hasil tangkapan nelayan.

Beberapa desa di Wakatobi juga memiliki tradisi kunjungan tokoh adat dan agama ke rumah-rumah warga sebagai simbol persatuan dan saling memaafkan. Tradisi ini mencerminkan struktur sosial yang masih menghormati peran tetua adat.

Tradisi Lebaran di Baubau dan Buton

Di Baubau dan wilayah Buton, Lebaran identik dengan budaya Kesultanan Buton yang masih terasa kuat. Setelah salat Id, sebagian masyarakat mengunjungi kawasan Keraton Buton sebagai bagian dari penghormatan terhadap sejarah dan leluhur.

Selain itu, halal bihalal keluarga besar dilakukan secara terstruktur. Anggota keluarga yang lebih muda biasanya mendatangi rumah orang yang dituakan lebih dahulu. Nilai hierarki dan penghormatan menjadi bagian penting dari tradisi ini.

Di beberapa wilayah Buton, tradisi makan bersama dalam satu dulang besar masih dijalankan sebagai simbol kebersamaan dan kesetaraan.

Kuliner Khas Lebaran di Sultra

Setiap daerah di Sultra memiliki sajian khas saat Idulfitri. Di Kendari dan sekitarnya, menu seperti lapa-lapa, kasuami, dan opor ayam menjadi hidangan wajib. Sementara di wilayah kepulauan seperti Wakatobi, olahan ikan segar dan makanan berbasis hasil laut lebih dominan.

Kehadiran makanan khas ini memperkuat identitas lokal dan menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi Lebaran.

Tradisi unik masyarakat Sultra saat Lebaran bukan sekadar rutinitas tahunan. Di baliknya ada nilai solidaritas, penghormatan kepada orang tua, penguatan hubungan keluarga, dan pelestarian budaya lokal.

Kehidupan modern memang mengubah banyak aspek kehidupan, tetapi hingga saat ini, masyarakat Sulawesi Tenggara masih menjaga tradisi ini sebagai bagian dari jati diri daerah. Lebaran bukan hanya momen pulang kampung, tetapi juga ruang untuk menghidupkan kembali akar budaya yang membentuk kebersamaan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Riset Penulis

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Cara Masyarakat Sultra Merayakan Lebaran, Dari Makan Bersama Hingga Masiara

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!