Dukungan terhadap dr.Ruhwati melalui unggahan twibbon warganet. (Facebook/Sitti Rohmahsari) (Mufida)
SULTRA - Gelombang solidaritas terhadap dr. Ruhwati Kadir, SpOG, terus mengisi ruang publik digital. Dokter spesialis kandungan di RSUD dr. H. L. M. Baharuddin Muna itu kini menjadi pusat perhatian setelah unggahannya tentang minimnya stok kain steril di ruang operasi memantik perbincangan luas. Dukungan mengalir deras melalui berbagai platform, dari Facebook hingga WhatsApp, ditandai penggunaan twibbon “Saya Bersama dr. Ruhwati” lengkap dengan tagar yang semakin viral seperti #SaveDrRuhwatiSpOg dan #DokterPunyaHakBersuara.
Baca juga: Viral Sorotan Dokter Soal Kelangkaan Kain Operasi di RSUD Muna, Kinerja Rumah Sakit Dipertanyakan
Pernyataan dr. Ruhwati terkait kondisi ruang operasi dianggap sebagai alarm keras mengenai aspek keselamatan pasien. Kontroversi semakin berkembang ketika muncul wacana pencabutan izin praktik dirinya, sebuah langkah yang justru memicu simpati publik dan memperluas arus dukungan.
Solidaritas tidak hanya muncul dari warga, tetapi juga dari rekan tenaga kesehatan di RSUD Muna. Sitti Rosmahsari, salah satu dokter spesialis di rumah sakit tersebut, mengunggah pernyataan yang menekankan pentingnya keberanian dalam membuka masalah internal. Ia menyebut bahwa langkah dr. Ruhwati merefleksikan upaya perubahan yang selama ini hanya dibicarakan tetapi jarang dilakukan.
Resonansi isu ini juga menjangkau kelompok mahasiswa. Mereka menyoroti bahwa penyebab stagnasi di daerah bukan semata keterbatasan ekonomi, tetapi lemahnya sistem yang enggan berubah. Dukungan terhadap dr. Ruhwati dianggap sebagai simbol perlawanan terhadap kondisi layanan publik yang mandek.
Baca juga: RSUD Bahteramas Diuji di Tengah Hujan dan Lemahnya Konstruksi
Tak berhenti di kalangan tenaga kesehatan dan mahasiswa, topik ini kini menjadi bahan diskusi para akademisi dan aktivis kesehatan. Bagi mereka, persoalan yang mencuat bukan lagi sebatas dinamika internal rumah sakit, melainkan gambaran rapuhnya manajemen fasilitas kesehatan daerah. Kualitas layanan, tata kelola anggaran, dan keselamatan pasien dipertanyakan secara terbuka.
Melihat skala solidaritas yang terbentuk, sentimen publik tampak mengarah pada satu titik krusial: kepercayaan terhadap pengelolaan RSUD Baharuddin berada dalam situasi genting. Dukungan untuk dr. Ruhwati menjadi ekspresi frustrasi masyarakat atas masalah yang dianggap berulang dan tidak ditangani dengan serius.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Facebook