SULTRA - Keluhan mengenai kondisi pelayanan di Ruang Operasi RSUD dr. H.L.M. Baharuddin, Kabupaten Muna, memicu perhatian publik setelah seorang dokter spesialis kandungan mengunggah situasi tersebut melalui Instagram Story pada Kamis pagi, 20 November 2025. Dalam unggahannya, ia memperlihatkan bagaimana keterbatasan fasilitas dasar justru menghambat prosedur bedah yang bersifat darurat.
Sang dokter menjelaskan bahwa pagi itu terdapat tiga pasien yang harus menjalani operasi Sectio Caesarea secara cito. Namun, jumlah set kain bedah yang siap pakai hanya dua. Ia menambahkan bahwa permintaan pengadaan kain penutup pasien dan jubah operasi sudah berulang kali disampaikan, tetapi belum pernah terpenuhi. Ketidakcukupan alat steril tersebut dinilai berisiko pada keselamatan prosedur.
Baca juga: RSUD Bahteramas Naik Kelas, Alat MRI Pertama Sultra Resmi Beroperasi
Tulisan dalam unggahannya menegaskan bahwa kondisi itu bukan sekadar kelalaian sesaat. Ia menyinggung anggapan bahwa kebutuhan operasional yang harganya relatif rendah justru kurang menjadi prioritas rumah sakit, sementara realisasi anggaran untuk pengadaan lain dianggap berjalan lebih cepat. Hal ini menimbulkan pertanyaan soal arah kebijakan internal dan efisiensi pembelanjaan.
Konten yang diunggah juga memuat foto ruang operasi. Dalam gambar tersebut tampak seorang asisten tidak memakai jubah steril. Sang dokter menekankan bahwa dokumentasi itu diambil apa adanya, tanpa modifikasi, sebagai bentuk bukti kondisi lapangan.
Melalui rangkaian unggahannya, ia mengimbau Pemerintah Daerah, aparat penegak hukum, hingga Komite Akreditasi Rumah Sakit (KARS) untuk melakukan pemeriksaan langsung terhadap RSUD Muna. Ia menyoroti dugaan ketidaktepatan penggunaan anggaran, salah satunya pembelian alat CT Scan bernilai sekitar Rp 15 miliar yang menurutnya tidak dimanfaatkan secara optimal dan bahkan disebut tersimpan di gudang.
Baca juga: ASN Muna Libur Sehari Demi Silaturahmi dengan Mantan Bupati yang Pernah Tersandung Kasus Korupsi
Selain itu, sang dokter mengungkap gambaran aktivitas harian di rumah sakit tersebut. Ia menyebut bahwa jumlah operasi Sectio Caesarea rata-rata mencapai lima tindakan per hari dengan potensi klaim BPJS sekitar Rp 35 juta per hari. Situasi ini membuat ketidaksiapan fasilitas dasar terlihat semakin kontras.
Isu ini semakin menjadi perbincangan publik setelah dokter tersebut mempertanyakan kesesuaian antara status akreditasi rumah sakit yang diklaim berpredikat bintang 5 paripurna dengan kondisi operasional yang ia alami sendiri. Ketimpangan antara standar penilaian dan kenyataan lapangan inilah yang mendorong warganet menyoroti kembali kualitas layanan kesehatan di daerah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Instagram