Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Senin, 27 OKTOBER 2025 • 21:52 WIB

3 Langkah di Balik Keamanan Bandara yang Tak Banyak Diketahui Penumpang

3 Langkah di Balik Keamanan Bandara yang Tak Banyak Diketahui PenumpangIlustrasi screening di bandara. (Freepik/wavebreakmedia_micro) (Mufida)

SULTRA - Sebagian besar penumpang bandara mungkin hanya mengenal proses melewati mesin pemindai dan pemeriksaan barang bawaan. Padahal, di balik layar, ada sistem berlapis yang bekerja secara senyap untuk memastikan setiap penerbangan aman dari ancaman, baik dari benda berbahaya, aktivitas mencurigakan, hingga potensi terorisme.

Baca juga: Penyelundupan 2 Kg Sabu di Bandara Haluoleo Terungkap, Pelaku dari Medan

Penerapan pengamanan modern di bandara saat ini mengikuti prinsip multi-layered security, yang mencakup screening teknis, profiling perilaku, dan pemantauan intelijen. Ketiganya tidak berjalan sendiri, melainkan saling menopang untuk mencegah risiko sejak dini.

1. Screening
Langkah awal yang paling banyak diketahui penumpang adalah screening. Screening ini berupa pemeriksaan penumpang, bagasi, dan kargo menggunakan teknologi seperti body scanner, CT X-ray, serta explosive trace detector. Standar ini mengacu pada pedoman ICAO Annex 17 dan diterapkan di seluruh bandara Indonesia, termasuk Bandara Haluoleo Kendari.

Petugas keamanan memastikan tak ada benda berbahaya seperti senjata tajam, cairan berlebih, atau bahan kimia yang bisa mengancam keselamatan penerbangan. Meski sering dianggap merepotkan, pemeriksaan ini merupakan langkah pertama mencegah ancaman nyata di udara.

Baca juga: Generasi 20–24 Tahun Menjadi Kelompok Terbanyak Pecandu Narkoba di Sultra, Kok Bisa?

2. Profiling
Tahapan berikutnya lebih halus dan melibatkan kemampuan manusia mengamati manusia. Profiling atau behavior detection bertujuan membaca tanda-tanda mencurigakan dari perilaku calon penumpang, misalnya ekspresi gugup, jawaban tidak konsisten, atau pola gerak tak biasa.

Metode ini bukan sekadar menilai penampilan, tetapi didasarkan pada indikator ilmiah dan pelatihan khusus bagi petugas keamanan.
IATA menegaskan bahwa analisis perilaku dapat membantu mengidentifikasi ancaman yang tidak terdeteksi alat pemindai, selama dilakukan tanpa diskriminasi dan tetap menghormati privasi penumpang.

3. Intelijen
Lapisan ketiga dan paling tersembunyi adalah intelijen. Sebelum calon penumpang datang ke bandara, tim intelijen sudah bekerja mengolah data perjalanan, informasi imigrasi, hingga laporan masyarakat. Sistem seperti Passenger Name Record (PNR) dan Advance Passenger Information (API) memungkinkan otoritas mendeteksi potensi ancaman lebih dini.

Kerja sama antar instansi seperti kepolisian, imigrasi, dan otoritas bandara sangat berperan besar dalam mencegah penyelundupan narkoba, terorisme, hingga kejahatan lintas negara. Bahkan, banyak operasi penggagalan penyelundupan dimulai dari laporan intelijen, bukan dari pemeriksaan di gerbang keberangkatan.

Penerapan sistem ini telah menjadi standar di berbagai bandara besar, dan kini mulai dioptimalkan di wilayah timur Indonesia termasuk Sulawesi Tenggara, seiring meningkatnya mobilitas udara dan ancaman penyelundupan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: The International Civil Aviation Organization (ICAO)

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

3 Langkah di Balik Keamanan Bandara yang Tak Banyak Diketahui Penumpang

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!