Jumat, 06 MARET 2026 • 18:01 WIB

Pusaran Angin di Pulau Saponda Sultra Bikin Warga Heboh, Apa Penyebabnya?

Author

Ilustrasi angin puting beliung. (AI Generated) (Mufida)

SULTRA - Fenomena pusaran angin yang terlihat jelas di wilayah laut sekitar Pulau Saponda, Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, sempat membuat warga panik. Pusaran tersebut tampak seperti tornado kecil di atas laut dan terlihat dari jarak cukup jauh oleh masyarakat.

Peristiwa ini sebenarnya merupakan fenomena cuaca yang dikenal sebagai angin puting beliung atau dalam konteks laut sering disebut waterspout. Banyak orang penasaran mengenai penyebab angin puting beliung, apalagi ketika fenomena tersebut muncul tiba-tiba di wilayah pesisir seperti Saponda.

Baca juga: Angin Kencang Sapu Perumahan di Baubau, Lima Rumah Rusak dalam Hitungan Detik

Apa Itu Angin Puting Beliung?

Angin puting beliung adalah pusaran angin berkecepatan tinggi yang terbentuk dari awan cumulonimbus dan bergerak secara vertikal dari awan menuju permukaan bumi atau laut. Fenomena ini biasanya berlangsung singkat, mulai dari beberapa menit hingga sekitar setengah jam.

Dalam beberapa kasus, puting beliung muncul di darat dan merusak rumah atau pepohonan. Namun jika terbentuk di atas laut, pusaran tersebut bisa terlihat seperti corong yang menghubungkan awan dengan permukaan air. Fenomena seperti inilah yang kemungkinan terjadi di perairan sekitar Pulau Saponda.

Penyebab Angin Puting Beliung Secara Ilmiah

Secara meteorologis, ada beberapa faktor utama yang menjadi penyebab angin puting beliung, yaitu:

1. Pertemuan Udara Panas dan Dingin
Puting beliung biasanya muncul ketika udara panas di permukaan bertemu dengan udara dingin di atmosfer bagian atas. Perbedaan suhu ini membuat udara naik dengan cepat dan membentuk awan badai.

Ketika proses ini terjadi secara intens, udara dapat berputar dan membentuk pusaran.

2. Awan Cumulonimbus
Awan cumulonimbus merupakan awan badai yang tinggi dan tebal. Di dalam awan ini terdapat arus udara naik dan turun yang sangat kuat.

Kondisi inilah yang dapat memicu terbentuknya pusaran angin yang kemudian berkembang menjadi puting beliung.

3. Perubahan Tekanan Udara
Perbedaan tekanan udara yang signifikan di suatu wilayah juga menjadi penyebab angin puting beliung. Ketika tekanan udara rendah terbentuk secara tiba-tiba, udara di sekitarnya bergerak cepat menuju pusat tekanan tersebut dan menciptakan pusaran.

4. Kondisi Laut yang Hangat
Di wilayah pesisir atau laut seperti Saponda, suhu permukaan air yang hangat dapat memperkuat proses pembentukan awan badai.

Air laut yang hangat meningkatkan penguapan dan energi di atmosfer, sehingga memperbesar peluang terbentuknya pusaran angin di atas laut.

Baca juga: Angin Debu dari Jetty Sampara Sapu Permukiman, Warga Kapoiala Resah

Apakah Ada Hubungan dengan Gerhana atau Hal Mistis?

Beberapa warga sering mengaitkan fenomena alam seperti ini dengan gerhana bulan atau hal mistis. Namun secara ilmiah tidak ada bukti bahwa gerhana dapat menyebabkan puting beliung.

Fenomena tersebut murni berkaitan dengan dinamika atmosfer, terutama kombinasi suhu, kelembapan, tekanan udara, dan pembentukan awan badai.

Fenomena Alam yang Perlu Diwaspadai

Meskipun banyak kasus puting beliung hanya berlangsung singkat dan tidak selalu menimbulkan kerusakan, masyarakat tetap perlu waspada terhadap perubahan cuaca ekstrem.

Jika terlihat tanda-tanda seperti:

  • awan gelap menjulang tinggi
  • angin bertiup sangat kencang
  • pusaran debu atau air

maka sebaiknya segera mencari tempat aman dan menjauhi area terbuka.

Fenomena pusaran angin di Pulau Saponda menjadi pengingat bahwa perubahan cuaca ekstrem bisa terjadi kapan saja, terutama di wilayah pesisir yang memiliki dinamika atmosfer cukup aktif.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Riset Penulis, BMKG

Author

Mufida

Editor
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU