SULTRA - Indonesia terbentuk dari perjalanan panjang berbagai wilayah yang memiliki identitas, budaya, dan sejarahnya masing-masing. Sejarah Provinsi Sulawesi Tenggara merupakan salah satu kisah penting dalam pembentukan daerah di Indonesia timur. Wilayah ini memiliki akar sejarah yang kuat sejak masa kerajaan-kerajaan maritim, mengalami pengaruh kolonial Belanda, hingga akhirnya resmi menjadi provinsi tersendiri pada 27 April 1964 melalui Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1964. Perjalanan panjang tersebut menjadikan Sulawesi Tenggara sebagai daerah yang kaya akan warisan budaya, sejarah, dan keberagaman etnis.
Saat ini, Sulawesi Tenggara dikenal sebagai provinsi yang terdiri dari daratan dan kepulauan dengan ibu kota di Kendari. Namun jauh sebelum menjadi wilayah administratif modern, kawasan ini telah menjadi pusat aktivitas perdagangan, pelayaran, dan pemerintahan yang berpengaruh di kawasan timur Nusantara.
Baca juga: Mengungkap Sejarah Menarik Kenapa Sulawesi Tenggara Disebut Bumi Anoa
Asal-Usul Nama dan Latar Belakang Historis Sulawesi Tenggara
Nama Sulawesi Tenggara berasal dari letak geografis wilayahnya yang berada di bagian tenggara Pulau Sulawesi. Sebelum dikenal dengan nama tersebut, wilayah ini merupakan bagian dari Provinsi Sulawesi Selatan dan Tenggara.
Istilah Sulawesi mulai populer pada masa kolonial untuk menggantikan nama lama Pulau Celebes yang digunakan bangsa Eropa. Setelah Indonesia merdeka, pembagian wilayah administratif terus mengalami penyesuaian hingga lahirlah Provinsi Sulawesi Tenggara sebagai daerah otonom.
Secara geografis, wilayah ini memiliki posisi strategis karena berada di jalur perdagangan laut yang menghubungkan Maluku, Sulawesi, Kalimantan, hingga Nusa Tenggara. Faktor tersebut membuat kawasan Sulawesi Tenggara berkembang sebagai pusat interaksi berbagai suku dan budaya sejak ratusan tahun lalu.
Baca juga: Sejarah di Balik 27 April, Hari Jadi Provinsi Sulawesi Tenggara
Jejak Masa Kerajaan dan Era Kolonial di Wilayah Ini
Sebelum kedatangan bangsa Eropa, wilayah Sulawesi Tenggara telah dihuni oleh berbagai kerajaan yang memiliki pengaruh besar di kawasan timur Indonesia.
Kerajaan Buton
Kerajaan atau Kesultanan Buton merupakan salah satu kerajaan terbesar dan paling berpengaruh dalam sejarah Sulawesi Tenggara. Berdiri sejak abad ke-14, Buton berkembang menjadi kerajaan maritim yang memiliki hubungan perdagangan dengan Maluku, Jawa, hingga kawasan Asia Tenggara.
Pada abad ke-16, Kerajaan Buton berubah menjadi kesultanan setelah masuknya Islam. Kesultanan Buton dikenal memiliki sistem pemerintahan yang maju dengan konstitusi tertulis yang disebut Murtabat Tujuh, salah satu sistem hukum tertua di Nusantara.
Kerajaan Konawe
Selain Buton, wilayah daratan Sulawesi Tenggara juga dipengaruhi oleh Kerajaan Konawe. Kerajaan ini diyakini berkembang sejak abad ke-13 dan memiliki pengaruh besar terhadap masyarakat Tolaki.
Tokoh legendaris yang sering dikaitkan dengan sejarah Konawe adalah Mokole Lakidende, yang hingga kini masih dikenang sebagai simbol kepemimpinan dan persatuan masyarakat Tolaki.
Masa Kolonial Belanda
Pada abad ke-17 hingga awal abad ke-20, wilayah Sulawesi Tenggara mulai masuk dalam pengaruh kolonial Belanda. Pemerintah kolonial menerapkan sistem administrasi yang mengawasi kerajaan-kerajaan lokal, termasuk Kesultanan Buton. Meski berada di bawah pengaruh Belanda, sejumlah kerajaan tetap mempertahankan struktur pemerintahan tradisionalnya. Namun, kekuasaan politik dan ekonomi secara perlahan semakin dikendalikan oleh pemerintah kolonial.
Perjuangan Tokoh Daerah dan Proses Pemekaran Wilayah
Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, wilayah Sulawesi mengalami beberapa kali perubahan administratif. Awalnya seluruh Pulau Sulawesi berada dalam satu provinsi besar. Pada tahun 1960, wilayah Sulawesi Selatan dan Tenggara masih berada dalam satu provinsi. Namun luas wilayah dan kebutuhan pembangunan yang berbeda mendorong munculnya aspirasi pembentukan provinsi baru.
Berbagai tokoh daerah, pemimpin masyarakat, dan pejabat pemerintahan saat itu memperjuangkan agar wilayah Sulawesi Tenggara memiliki pemerintahan sendiri yang lebih dekat dengan masyarakat. Tujuannya adalah mempercepat pembangunan, meningkatkan pelayanan publik, serta memberikan ruang yang lebih besar bagi pengelolaan potensi daerah.
Perjuangan tersebut akhirnya mendapat dukungan pemerintah pusat dan DPR RI melalui pembahasan pembentukan provinsi baru.
Tanggal Peresmian dan Penetapan Hari Jadi Sulawesi Tenggara
Momen paling penting dalam sejarah Provinsi Sulawesi Tenggara terjadi pada 27 April 1964. Pada tanggal tersebut, pemerintah resmi membentuk Provinsi Sulawesi Tenggara berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1964 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1964.
Sejak saat itu, Sulawesi Tenggara berdiri sebagai provinsi mandiri yang terpisah dari Sulawesi Selatan. Tanggal 27 April kemudian ditetapkan sebagai Hari Ulang Tahun (HUT) Provinsi Sulawesi Tenggara dan diperingati setiap tahun melalui berbagai kegiatan budaya, pembangunan, dan refleksi sejarah daerah.
Ketika pertama kali dibentuk, provinsi ini hanya terdiri dari beberapa kabupaten. Seiring perkembangan waktu, wilayah administrasinya terus bertambah hingga kini mencakup banyak kabupaten dan kota, termasuk Kendari sebagai ibu kota provinsi dan Baubau sebagai salah satu pusat sejarah penting di kawasan kepulauan.
Jejak sejarah Sulawesi Tenggara masih dapat ditemukan di berbagai tempat. Benteng Keraton Buton di Kota Baubau menjadi salah satu peninggalan paling terkenal. Benteng ini bahkan dikenal sebagai salah satu benteng terluas di dunia yang masih berdiri hingga sekarang.
Selain itu, berbagai tradisi budaya masyarakat Tolaki, Buton, Muna, Moronene, dan etnis lainnya juga menjadi bagian dari warisan sejarah yang terus dilestarikan. Keberadaan situs sejarah, naskah kuno Kesultanan Buton, tradisi adat, hingga peninggalan kerajaan menjadi bukti bahwa Sulawesi Tenggara memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah Indonesia timur.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Riset Penulis