Rabu, 20 MEI 2026 • 21:49 WIB

Daftar Kerajinan Khas Sulawesi Tenggara yang Cocok Dijadikan Oleh-Oleh

Author

Ilustrasi produk anyaman. (Freepik) (Mufida)

SULTRA - Indonesia dikenal sebagai negeri dengan kekayaan budaya yang tersebar hingga ke pelosok daerah, termasuk Sulawesi Tenggara. Beragam kerajinan khas Sultra lahir dari tradisi turun-temurun masyarakat lokal, mulai dari kain tenun, anyaman rotan, hingga ukiran kayu bernilai seni tinggi. Tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap adat, kerajinan tersebut kini juga menjadi produk ekonomi kreatif yang banyak diburu wisatawan sebagai oleh-oleh khas daerah.

Di sejumlah wilayah seperti Buton, Wakatobi, Muna, hingga Konawe, masyarakat masih mempertahankan teknik pembuatan tradisional yang diwariskan lintas generasi. Menariknya, di tengah gempuran produk pabrikan modern, hasil kriya lokal justru tetap punya tempat tersendiri.

Baca juga: Makna Motif Kain Tenun Sulaa dari Buton, Sulawesi Tenggara

Ragam Kerajinan Khas Sultra yang Wajib Dibawa Pulang

Sulawesi Tenggara memiliki beragam produk kerajinan yang tidak hanya unik secara visual, tetapi juga menyimpan nilai budaya mendalam.

Tenun Buton, Warisan Budaya yang Sarat Filosofi

Tenun Buton menjadi salah satu kerajinan paling terkenal dari Sulawesi Tenggara. Kain ini berasal dari wilayah Kesultanan Buton, khususnya Kota Baubau dan Kabupaten Buton. Sentra tenun Buton dapat ditemukan di Baubau dan beberapa desa pengrajin di Kabupaten Buton Tengah serta Buton Selatan.

Motif tenun Buton umumnya didominasi warna cerah seperti merah, kuning, hijau, dan emas yang melambangkan keberanian, kemakmuran, serta status sosial. Dahulu, beberapa motif hanya boleh dikenakan kalangan bangsawan Kesultanan Buton.

Saat ini, tenun Buton telah berkembang menjadi berbagai produk modern seperti:

  • Kain sarung adat
  • Selendang
  • Tas etnik
  • Outer dan pakaian formal
  • Aksesori fesyen modern

Anyaman Rotan dan Pandan dari Muna

Kabupaten Muna dikenal memiliki kerajinan anyaman berbahan rotan dan daun pandan. Produk ini dibuat secara manual oleh pengrajin lokal dan banyak digunakan sebagai perlengkapan rumah tangga maupun dekorasi interior.

Beberapa produk yang populer antara lain:

  • Tikar anyaman
  • Keranjang tradisional
  • Tempat penyimpanan
  • Tudung saji
  • Tas anyaman khas pesisir

Selain ramah lingkungan, anyaman khas Muna juga terkenal kuat dan tahan lama karena menggunakan bahan alami pilihan.

Kerajinan Kayu Khas Wakatobi

Daerah kepulauan seperti Wakatobi juga memiliki produk kriya berbahan kayu laut dan hasil olahan tangan masyarakat pesisir. Kerajinan tersebut umumnya berbentuk:

  • Miniatur kapal tradisional
  • Pajangan laut
  • Ukiran bertema bawah laut
  • Hiasan rumah bernuansa maritim

Produk-produk ini banyak dijual di kawasan wisata dan pusat oleh-oleh sebagai simbol identitas daerah kepulauan Sultra.

Perhiasan Tradisional Tolaki dan Buton

Masyarakat Tolaki dan Buton juga memiliki tradisi membuat aksesori adat berbahan logam kuningan maupun perak. Beberapa di antaranya adalah:

  • Gelang adat
  • Kalung tradisional
  • Anting khas pengantin Sultra
  • Mahkota adat wanita

Aksesori ini biasanya digunakan dalam upacara adat, pernikahan, hingga festival budaya daerah.

Kerajinan khas Sultra tidak sekadar dibuat untuk kebutuhan ekonomi, tetapi juga merepresentasikan identitas budaya masyarakat lokal. Tenun Buton, misalnya, memiliki motif yang mencerminkan hubungan manusia dengan alam dan struktur sosial masyarakat kesultanan. Sementara anyaman Muna melambangkan ketekunan serta kedekatan masyarakat dengan sumber daya alam sekitar.

Sebagian besar bahan baku yang digunakan juga berasal dari alam Sulawesi Tenggara, seperti rotan hutan, daun pandan, kapas tenun, pewarna alami dan kayu lokal pesisir. Pembuatannya masih secara tradisional sehingga proses pengerjaannya membutuhkan waktu cukup lama. Satu lembar kain tenun bahkan bisa diselesaikan dalam hitungan minggu hingga bulan tergantung tingkat kerumitan motif.

Baca juga: Daftar UMKM Unggulan di Kendari, Dari Kuliner hingga Kerajinan

Rekomendasi Lokasi Sentra Kriya dan Toko Oleh-Oleh Terjangkau

Bagi wisatawan yang ingin membeli kerajinan khas Sultra secara langsung, ada beberapa lokasi sentra kriya yang cukup populer.

Kota Baubau dan Buton

Wilayah ini menjadi pusat utama kain tenun Buton. Wisatawan dapat menemukan berbagai galeri tenun dan rumah produksi tradisional.

Kabupaten Muna

Beberapa desa pengrajin anyaman masih aktif memproduksi keranjang, tikar, dan perlengkapan rumah tangga berbahan rotan.

Wakatobi

Di kawasan wisata Wangi-Wangi dan Tomia, wisatawan bisa menemukan toko suvenir yang menjual miniatur kapal dan kriya laut khas daerah.

Kendari

Sebagai ibu kota provinsi, Kendari memiliki sejumlah pusat oleh-oleh yang menjual produk kerajinan dari berbagai kabupaten di Sulawesi Tenggara.

Kisaran Harga Kerajinan Tangan untuk Backpacker hingga Sultan

Harga kerajinan khas Sultra cukup beragam tergantung bahan, ukuran, dan tingkat kesulitan pengerjaan. Berikut kisaran harganya:

  • Gantungan kunci dan aksesori kecil: Rp10 ribu-Rp50 ribu
  • Tas anyaman: Rp75 ribu-Rp300 ribu
  • Tikar dan keranjang tradisional: Rp100 ribu-Rp500 ribu
  • Kain tenun Buton: Rp300 ribu hingga jutaan rupiah
  • Perhiasan adat premium: mulai Rp500 ribu ke atas

Produk handmade dengan motif eksklusif biasanya memiliki harga lebih tinggi karena dibuat secara terbatas dan memerlukan proses pengerjaan panjang.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Riset Penulis

Author

Mufida

Editor
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU